Selasa, 21 Januari 2014

Pasar ke Istana: Dari Medan-Sumatera Utara, RR1 “Digiring” menuju Medan Merdeka Utara


[RR1online] :
MESKI telah usai mengikuti debat publik Capres 2014 oleh Konvensi Rakyat di Gedung Medan Internation Convention Center (MICC)-Medan, Minggu (19/1/2014), Rizal Ramli tak langsung pulang. Ekonom senior itu nampaknya “jatuh cinta” kepada Medan.

Rizal Ramli (RR1) pun menyatakan sangat ingin berkeliling di Kota Melayu Deli tersebut. Dan Pasar Sei Sikambing Jalan Kapten Muslim-Medan adalah lokasi pertama yang jadi target kunjungannya.

Dengan mengendarai sebuah becak bermesin motor (Bentor) diikuti puluhan Abang bentor beserta para pendukung dan simpatisan lainnya, layaknya sebuah “pawai” kecil, RR1 pun akhirnya tiba di pasar yang terletak di Kecamatan Medan Helvetia tersebut.

Saat berjalan di dalam pasar ini, mantan Menko Perekonomian tersebut tidak langsung bisa berbelanja, karena tak sedikit pengunjung mulai mendekati dan mengekor di belakangnya secara antusias. Rata-rata di antara mereka bahkan mengajak dan minta berfoto bareng dengan RR1.

“Ini Pak Rizal Ramli, calon presiden Konvensi Rakyat itu? Boleh foto pak,” ujar dua orang perempuan yang kebetulan berada di Pasar Seikambing. Seperti dikutip medanbagus.

Dengan ramah dan menaruh hormat, RR1 pun mempersilakan kedua wanita tersebut berfoto bareng. “Makasih, ya, pak. Semoga Bapak jadi presiden dan dapat mengemban amanah rakyat,” ujar mereka seusai berfose dan mengabadikan momen “pertemuannya” dengan sosok tokoh nasional yang dinilainya paling lantang melawan rezim korup sejak dulu hingga saat ini.

Selain meladeni sejumlah pengunjung untuk berfoto bareng, RR1 juga melakukan dialog dengan beberapa pedagang di Pasar tersebut sambil berbelanja macam-macam kebutuhan, mulai dari daging ayam, ikan, sayur-sayuran, hingga aneka jenis buah-buahan seperti jambu, pisang, jeruk dan lain sebagainya.

Suasana pasar saat itu nampak makin padat dan ramai, sebab selain karena para pengunjung yang telah sedari tadi mengerumuni RR1, sejumlah pedagang lain juga memanggil-manggil untuk disambangi. Dan semuanya disapa oleh Ketua Umum Kadin tersebut.

RR1 bahkan meminta parang untuk memotong-motong sendiri daging ayam yang dibelinya. “Jangan terlalu ke atas tangannya, Pak,” kata penjual ayam potong mengingatkan. Dan dengan senang hati, RR1 pun mengikuti “arahan” tersebut, tanda bahwa RR1 memang sosok pemimpin yang amat menghargai masukan dari seseorang yang telah mengingatkannya terhadap sesuatu (ajaran atau teknik) yang mungkin belum diketahuinya.

“Ini baru calon presiden kita yang tidak segan turun dan mau melakukan pekerjaan kotor seperti ini,” ujar seorang warga yang melihat.

Sebelum beranjak keluar dari pasar, beberapa pengunjung masih ada yang sempat meminta berfoto. RR1 dengan senang hati pun mengiyakan. Namun kali ini bareng dengan sejumlah pedagang, para pendukung dan simpatisan beserta para Abang Bentor yang setia mendampinginya sejak pagi.

Lokasi berikutnya yang menjadi target “blusukan” RR1 selepas dari pasar adalah Masjid Raya al-Mashun, di Jalan Sisingamangaraja-Medan. Tentunya masih dengan mengendari puluhan Bentor.

Di masjid bersejarah peninggalan Sultan Deli ini, RR1 dan rombongan (para pendukung dan Abang Bentor) melaksanakan Shalat Ashar. Dan usai menunaikan shalat di masjid yang dibangun pada tahun 1906 dan rampung tiga tahun kemudian (9 September 1909) itu pula, RR1 membagikan hasil belanjaan di Pasar Sei Sikambing tadi. Memang, belanjaan itu sudah diniatkan dari awal untuk “disedekahkan” kepada masyarakat kurang mampu yang sering “mangkal” di area Masjid tersebut.

Setelah menyerahkan seluruh hasil belanjaan tersebut. RR1 malah nampak makin segar bugar, samasekali tidak memperlihatkan kelelahan di wajahnya. Padahal sejak kemarin (Sabtu, 18/1/2014) menginjakkan kaki di Medan, RR1 sudah ke sana-ke mari blusukan, dan telah banyak menemui orang-orang berkarakter dan tipe yang berbeda-beda. Tampaknya stamina dan kebugaran RR1 tak perlu lagi diragukan untuk pekerjaan seperti ini, we won’t question his fitness for the job.

Karena belum lelah, RR1 pun lalu “mengajak” rombongan untuk mengunjungi Istana Maimun yang kira-kira berjarak 200 meter dari Masjid Raya al-Mashun itu.

Namun setibanya di pekarangan istana yang dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah (tahun1888) tersebut, RR1 sempat berhenti sejenak. Tetapi bukan untuk istirahat, ia hanya ingin menikmati manisan jambu asli di Kota Medan.

Setelah itu, RR1 pun kembali mengelilingi dan menikmati keindahan bangunan dan ornamen serta benda-benda bersejarah di dalam istana tersebut, salah satunya adalah Meriam Puntung. Pemandu pun tampak santun dan ramah menjelaskan semua hal-hal yang menyangkut istana yang didesain oleh arsitek Italia itu.

Capres number one Konvesi Rakyat itu akhirnya menyudahi rangkaian kunjungannya di Medan, yakni sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Namun sebelum berpisah dan meninggalkan Medan, masih di Istana Maimun, RR1kemudian menyemangati para pendukung dan simpatisan beserta para puluhan Abang Bentor.

Dengan penuh ketegasan, RR1 kembali menyatakan keseriusannya dan tekadnya yang amat bulat untuk maju pada Pemilihan Presiden 2014 mendatang.

RR1 mengisahkan, bahwa karena dirinya telah merasakan bagaimana pedih dan menderitanya menjadi seorang anak yatim-piatu sejak masih umur 6 tahun, maka dirinya juga tak tega rakyat hidup bagai “yatim-piatu”. Yakni betul ada pemimpin, tetapi tidak banyak bertindak sebagai mana layaknya seorang pemimpin yang punya rakyat. “Walau yatin piatu, saya punya cita-cita agar jadi orang. Saya pernah jadi Menko Perekonomian, dan (juga) jabatan lainnya. Sekarang saya penasihat PBB di New-York, Amerika Serikat,” ujar RR1 inspiratif memberi semangat.

RR1 juga mengisahkan, bahwa dirinya adalah mantan aktivis yang telah melawan rezim korup Orba demi memperjuangkan nasib orang-orang miskin, namun kemudian dirinya malah di penjara di Sukamiskin.

“80 persen rakyat belum merdeka. Makanya kita harus benahi Indonesia. Saya (pernah) ditelepon Sekjen PBB diminta memimpin Economic & Social Commission of Asia and Pacific (ESCAP), yang mempunyai 53 negara anggota. Tapi saya tolak. Lebih baik kita (fokus) ubah Indonesia. InsyaAllah lewat konvensi rakyat, kita bisa lakukan sesuatu (perubahan),” pungkasnya berkobar, yang spontan disambut pekik pendukungnya: “Cocok Kali…” disusul teriakan: “Hidup Rizal Ramli…..!!!”
-------
Sumber KOMPASIANA

Abang Bentor: Dari Medan-Sumatera Utara, RR1 “Digiring” menuju Medan Merdeka Utara


[RR1online]:
SETELAH sukses di Surabaya, Debat Publik Capres 2014 kembali digelar oleh Komite Konvensi Rakyat. Kali ini dilangsungkan di Medan, Kota Melayu Deli, pada Minggu (19/1/2014).

Terdapat 7 Capres sebagai peserta acara tersebut, yakni: DR. Rizal Ramli (Mantan Menko Perekonomian), Isran Noor (Bupati Kutai Timur-juga Ketua DPD Partai Demokrat di daerahnya); Sofyan Saury Siregar (Rektor Islamic University of Europe Rotterdam-Belanda); Anni Iwasaki (aktivis perempuan Indonesia di Jepang); Ricky Sutanto (pengusaha sukses); Tony Ardi (mantan aktivis); dan Yusril Ihza Mahendra (mantan Menkum HAM).

Ada hal menarik yang dilakukan Rizal Ramli (RR1) selaku Capres nomor urut 1 (satu) versi Konvensi Rakyat tersebut. Yakni, para pendukung RR1 melakukan prosesi perjalanan menyerupai pawai menuju lokasi acara dengan menggunakan puluhan becak mesin motor (Bentor).
Bentor-bentor inilah yang akan mengarak DR. Rizal Ramli selaku Calon Presiden Konvensi Rakyat dari Lapangan Merdeka-Medan menuju lokasi acara Debat Publik Capres 2014, yakni di Gedung Medan Internation Convention Center (MICC), Medan.

Para Abang Bentor bersama pendukung sosok Ekonom Senior itu tampak berwajah cerah teduh dan antusias dipadu kaos putih bergambar DR. Rizal Ramli, bertuliskan: “Presiden Rakyat”. RR1 sendiri terlihat berkemeja putih lengan panjang, dikombinasi dasi dan celana kain hitam.

Namun sebelum memulai perjalanan, sejumlah Abang Bentor nampaknya tak ingin menyia-nyiakan waktu. Mereka menyempatkan diri ingin mengobrol dengan RR1 yang juga mantan Menteri Keuangan tersebut. Obrolan pun terjalin secara akrab, bahkan disertai canda-ria.

“Potong kumisnya, Bapak (bisa) terlihat lima tahun lebih muda,” ujar RR1 menyapa salah seorang Abang Bentor dengan senyum manis. Dikutip medanbagus.

Setelah menempuh jarak sekitar 4 Km atau kurang lebih 15 menit waktu perjalanan, arak-arakan RR1 pun tiba di Gedung MICC, Medan. Di sana, RR1 disambut meriah oleh seluruh pendukung lainnya yang juga telah lama menunggu di lokasi Debat Publik tersebut.

Sebagian besar pendukung RR1, terutama gadis-gadis langsung menyapa Ketua Umum Kadin itu untuk berfoto bareng. Bahkan ibu-ibu pun tak mau kalah, mereka juga tak ingin kehilangan momen penting ingin ikut berfose bersama RR1 sebagai Capres paling ideal yang patut didukung.

“Ayo sama-sama ngomong, duren. Apalagi duren Medan kan terkenal. Ayo, sama-sama bilang lagi, dureeenn..,” sahut RR1 bercanda sebelum dijepret dengan kamera super-digital oleh fotografer profesional maupun sejumlah pendukung lainnya melalui kamera HP masing-masing. Sepertinya duren yang dimaksud RR1 adalah duda keren, sebab dirinya yang saat ini memang sementara sedang menduda.

Di benak para Abang Bentor bersama seluruh pendukung RR1 di hari itu tentu saja terselip sebuah harapan dan doa. Yakni: Semoga Rizal Ramli benar-benar bisa tembus dan terpilih dari Medan ke “Medan Merdeka Utara” sebagai Presiden (paling tidak Wakil Presiden) pada Pilpres 2014 mendatang. Amin..!!!
---------
Sumber: KOMPASIANA

Warkop: Dari Medan-Sumatera Utara, RR1 “Digiring” Menuju Medan Merdeka Utara


[RR1online]:
WARKOP Jurnalis. Demikian nama Warung Kopi yang terletak di Jalan KH. Agus Salim, Medan-Sumatera Utara. Seperti namanya, warkop ini tentunya lebih banyak dikunjungi para pekerja Pers, untuk berdiskusi, bertukar informasi, atau mungkin sekadar melepas lelah setelah berburu berita di lapangan.

Atap warkop ini cuma tenda terpal biru tua yang nampak sudah sobek dan bolong-bolong di beberapa bagiannya. Dindingnya juga bukanlah tembok, tetapi hanya dari spanduk-spanduk bekas yang dibentangkan sebagai tirai mengelilingi lapak warkop tersebut.

Kursinya pun hanya bangku kuda-kuda dari kayu, yang dibentuk memanjang mengikuti mejanya yang juga terbuat dari papan. Meja itu dibungkus dengan taplak plastik putih tebal bertuliskan “Grande”.

Karena warkop ini jauh dari kesan mewah , maka tentu tak ada menteri atau kalangan pengusaha kelas atas serta konglomerat yang sudi bertandang di dalamnya.

Namun, pada Sabtu (18/1/2014), suasana tempat ngopi itu tiba-tiba terasa sangat “mewah” karena dikunjungi oleh tokoh eksklusif yang selama ini dikenal sebagai lokomotif perubahan, sosok yang pernah menghuni penjara di Sukamiskin (karena aksi pro-rakyat melawan keras rezim Orba), mantan Menko Perekonomian yang juga pernah menjabat sebagai Menkeu. Yakni, DR. Rizal Ramli (RR1).

Dengan style kemeja putih lengan pendek dan celana jeans biru, ekonom senior yang telah yatim piatu sejak usia 6 tahun ini muncul secara tak disangka-sangka di warkop tersebut, lalu duduk memesan kopi.

Sontak para wartawan dan pengunjung lainnya di warkop itupun kaget. Mereka merasa tak percaya jika tokoh nasional yang sangat konsisten sejak dulu berjuang pro-rakyat itu, sudi mampir dan bergabung di Warkop Jurnalis tersebut. Spontan, mereka pun mendekat dan mengerumuni RR1, sebagiannya langsung menjepret momen yang tak biasanya terjadi di warkop tersebut.

Seketika, keakraban pun terjalin, dan mereka semuanya telah nampak serius terlibat dalam pembicaraan seputar kondisi bangsa dan negara ini. Terlebih saat di atas meja telah tersaji gelas berisi kopi serta minuman ringan lainnya, membuat suasana pun terasa makin asyik dan punya kesan serta nilai tersendiri bagi seluruh pengunjung warkop tersebut.

“Kalau abang nanti, awak bangga ada calon presiden duduk-duduk dengan kita di sini,” ujar seorang wartawan menyapa RR1 di warkop tersebut, dilansir tribunnews.

Dan memang, tukar pikiran yang berlangsung secara mendadak itu nampak santai dan bersahaja. Para wartawan pun terlihat antusias mendengar setiap pencerahan-pencerahan yang disampaikan oleh Rizal Ramli dengan penuh hikmat. Sebagian wartawan ada yang langsung mengetik berita melalui laptop, atau di smartphone masing-masing. Sesekali ada canda cerdas bernada sentilan, sehingga tawa pun meledak berkali-kali.

Kehadiran RR1 di Medan hari itu adalah selaku Capres nomor urut 1 (satu) versi Konvensi Rakyat yang akan mengikuti debat publik putaran kedua, yakni pada Minggu (19/1/2014). RR1 sengaja datang sehari lebih awal karena tak cuma ingin mengikuti acara tersebut, tetapi Ketua Umum Kadin ini juga ingin lebih mendekatkan diri dengan rakyat Medan, salah satunya di Warkop tersebut.

Terbukti di Warkop ini, RR1 mendapat simpatik dan apresiasi dari para wartawan. Di mata mereka, Rizal Ramli adalah sosok yang paling tepat memimpin Indonesia ke depan. Kapasitas dan integritasnya tidak perlu diragukan. Artinya, RR1 sangat layak berada di Istana di Jalan Medan Merdeka Utara, sebagai pemimpin rakyat (Presiden) 2014-2019.

“Rizal Ramli, cocok kali,” lontar seorang wartawan dengan logat khas Medan ketika tahu, bahwa yang duduk bergabung bareng mereka saat itu adalah salah satu Capres peserta Konvensi Rakyat 2014.

“Nantilah, kita ngobrol-ngobrol dulu (di sini). Ada tokoh nasional. Awak pulang tak bawa berita, rugi kali,” sambung wartawan berkulit gelap, berambut gondrong yang duduk tepat bersebelahan dengan RR1. Wartawan ini menolak untuk kesekian kalinya ketika diminta bergegas ke lokasi yang telah disediakan oleh Komite Konvensi Rakyat, yakni di Kawasan Jalan Setiabudi, Medan, sebagai tempat berkumpul yang lebih representatif.

Di hari yang sama, yakni Sabtu sore (18/1), RR1 masih menyempatkan diri tampil sebagai pembicara dalam diskusi bertajuk: “Mencari Pemimpin Beneran, Popularitas vs Kapasitas” di Juice Kuphi, Medan.

Dalam diskusi itu, RR1 mengatakan, ada empat syarat untuk menjadi pemimpin. Yaitu punya visi, karakter, kompetensi, dan yang terakhir adalah popular. Tiga syarat yang secara berurut tersebut (visi, karakter, dan kompetensi) tidak bisa direkayasa. Tiga syarat itulah yang telah melahirkan para pemimpin besar dunia. Mereka di antaranya Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya.

“Kalau pemimpin hanya mengandalkan popularitas, maka kita akan terjebak seperti di Filipina. Di sana, pemimpin hanya dari kalangan keluarga kaya atau artis saja. Akibatnya, Filipina tidak pernah menjadi bangsa besar dan kuat,” kata RR1. Dikutip medanbagus.
----------
Sumber: KOMPASIANA

Minggu, 19 Januari 2014

Secuil “Biografi Negara" Di Tangan SBY

Kategori: Opini*
[RR1online]:
KITA semua tahu dan sangat paham, bagaimana kini kondisi Indonesia tercinta ini.  Yakni, punya kekayaan alam yang melimpah dan terkandung di perut Ibu Pertiwi, tetapi rakyat kita masih sangat banyak yang sengsara. Itu karena kekayaan alam (bumi) yang kita punyai saat ini lebih banyak “disedot” dan dikuasai oleh negara asing.

Sungguh aneh, sekaligus memilukan. Bayangkan! Di kala negara asing sudah menyedot kekayaan alam negara ini, kita malah punya utang (berutang) kepada mereka (negara asing itu)..??!!! Woww… Luar biasa..!!??

Yaa…Negara kita punya banyak utang luar negeri yang menggunung, dan punya hasil pajak yang menggumpal-gumpal, tetapi sebagian besar hanya dilahap oleh koruptor, sampai-sampai keuangan negara pun jadi defisit, lalu berutang kembali untuk menambal “kebocoran-kebocoran” yang ada…!?!

Harusnya, dalam kondisi seperti itu, rakyat kita sudah tak ada lagi yang hidup miskin, menderita bing sengsara. Tak ada lagi yang mati digebukin dan dikeroyok karena mencuri ayam; tak ada lagi ibu yang mencekik bayinya karena tak mampu membeli susu; tak ada lagi istri yang membunuh suaminya dengan linggis karena dililit kesulitan ekonomi; tak ada lagi anak remaja yang tega menghabisi nyawa ibu kandungnya karena tak diberi uang jajan; tak ada lagi artikel seperti ini yang terposting di kompasiana atau di blog lainnya; serta tak ada lagi yang harus disomasi karena dianggap memfitnah, dan lain sebagainya.

Dan dalam kondisi berlimpahkan kekayaan alam hasil bumi, akumulasi pajak dari rakyat, punya utang luar negeri, seharusnya ekonomi negara kita sudah sangat mapan,  dan rakyat kita tentu sudah sangat sejahtera. Sehingga tak perlu lagi pemberian subsidi BBM; tak perlu lagi ada BLSM; tak perlu lagi repot-repot berlakukan SJSN, kartu sehat atau sejenisnya; tak perlu lagi pengurus tempat ibadah atau panti asuhan “mengemis” ke sana-ke mari memohon bantuan; serta tak perlu lagi susah-susah menggusur pedagang kaki-lima, mengusir keluarga purnawirawan dari eks rumah dinasnya, dan lain sebagainya.

Apalagi kita punya presiden dua periode (SBY) yang bergelar doktor pertanian, maka seyogianya pembangunan pertanian kita hari ini bisa lebih maju dan berkembang. Namun sayang, sungguh sangat disayangkan, negara yang subur ini justru lebih doyan bergantung pada impor. Mulai dari beras, daging sapi, kelapa, gula (tebu), hingga kedelai dan lain sebagainya, semua kini diimpor.

Derajat  ekonomi para petani kita juga malah semakin menurun bersamaan dengan giatnya pemerintah “berimpor-ria”, petani pun jadi malas dan lesu, lalu berkuranglah jumlah petani kita. Menurut data BPS, selama satu dasawarsa, jumlah rumah tangga petani kita berkurang 5 juta lebih. Lahan produktif juga makin menyempit karena alih-fungsi.

Betapa pembangunan di bidang pertanian kita saat ini malah jadi “tandus”, alias tak berkembang secara signifikan di bawah kepemimpinan seorang presiden yang bertitel doktor pertanian, tetapi nyatanya boleh dikata tidak ahli di bidang pertanian. Seharusnya, sebagai negara agraris yang sangat subur, Indonesia sudah bisa menjadi negara mandiri, sekali pun “mungkin” tak dipimpin oleh seorang doktor pertanian.

Selain sebagai doktor pertanian, SBY sebagai presiden juga adalah seorang militer, namun budaya dan warga kita (TKI) sering “dilecehkan” oleh negara lain; batik dan sejumlah tari-tarian kita seenaknya diklaim oleh negara luar sebagai milik mereka; korupsi merajalela; teroris “mendadak” muncul; daftar polisi tertembak pun makin bertambah, perampokan di sejumlah toko emas dan supermarket mulai meningkat, ada aksi koboi adu jotos antara polisi dan TNI, jaringan bisnis narkoba pun makin meluas, dan sebagainya. Seakan presiden militer itu (SBY) tak ditakuti, juga tak lagi disegani? Padahal dulu kita punya Presiden bukan militer tetapi sangat disegani oleh rakyat, baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya, Presiden Soekarno.

Banyak sekali kalangan yang tak habis pikir. Hampir 10 tahun berkuasa, tetapi rakyat masih sangat bingung menebak karakter presidennya, SBY. Sampai-sampai, tak sedikit orang bertanya-tanya: “apakah SBY benar-benar presiden dari kalangan militer, punya gelar doktor pertanian, atau seorang “banci”..??? Kok setiap ada masalah-masalah selalu dikeluhkan melalui curhat ke publik???

Akibatnya, rakyat pun jadi pusing berat, niatnya untuk curhat ke presiden (pemerintah) harus dibatalkan dan terpaksa hanya dipendam dalam hati. Kenapa? Karena presiden lebih dulu melakukan curhat di hadapan publik. Bagai seorang “anak” yang terpaksa membatalkan niatnya untuk meminta sesuatu kepada “bapaknya”, lantaran sang bapak lebih dulu sudah mengutarakan keluhannya (curhat) di hadapan anak-anaknya. Sehingga, rakyat pun kini lebih banyak memilih diam dan pasrah dengan kondisi yang sangat sulit seperti saat ini.

Sejauh ini pula, SBY mungkin lebih tepat jika disebut sebagai seorang artis dan penyanyi, juga seorang penulis. Sebab selama ini SBY dinilai sangat “pandai” melakukan  akting dan pencitraan diri. Kesuksesannya di bidang akting sama sekali tak bisa dibantah, karena sejumlah album lagu memang sudah diorbitkannya, dan beberapa judul buku juga sudah diterbitkannya.

Sayangnya, kesuksesannya membuat album lagu dan menerbitkan buku itu terjadi di saat kondisi negara dan rakyat masih sangat-sangat dililit masalah-masalah. Dan itu sudah dimulai sejak periode SBY-JK, kemudian dilanjutkan hingga kini SBY-Budi. Bukannya tak boleh membuat album lagu atau menerbitkan buku. Silakan, tak ada yang melarang! Bahkan akan banyak orang (termasuk saya sendiri) siap jadi produser untuk mengorbitkan setiap album lagu SBY, asalkan saja masalah-masalah negara sudah bisa diatasinya sebagai seorang Presiden.

Selanjutnya, kita juga saat ini punya wakil presiden (Boediono) yang mengaku pernah bertindak “mulia” karena dinilai “jago” mengelola keuangan, tetapi anehnya keuangan negara kita saat ini  malah di posisi defisit yang mengerikan, perekonomian negeri ini terpuruk, nilai Rupiah anjlok, harga bahan kebutuhan pangan rakyat jadi mahal; saling dorong berebut pembagian zakat atau sumbangan sosial masih menjadi fenomena yang menyedihkan (bahkan amat tragis karena acapkali menelan korban nyawa hanya untuk mendapatkan uang Rp.20 ribu, atau 5 liter beras).

Hal lainnya yang bisa menjadi “biografi” negara ini selain masalah korupsi selama hampir 10 tahun kekuasaan SBY hingga kini, adalah masalah nepotisme. Maaf…jujur saja, sampai detik ini saya belum melihat adanya sebuah prestasi atau kehebatan yang bisa ditunjuk dari seorang Hatta Rajasa, namun hingga hari ini pun kok tetap “dipertahankan“ sebagai Menko Perekonomian??? Sebetulnya pertanyaan ini mudah saja dijawab. Publik bahkan sudah sangat mengetahuinya, bahwa Hatta Rajasa adalah besan SBY.

Di dalam tubuh partai “milik” SBY juga nampaknya terjadi hal serupa. Sebagai partai penguasa saat ini, Demokrat sepertinya telah berhasil membangun panggung politik, karena masih mampu menyedot perhatian publik. Ibas berhasil diposisikan sebagai Sekjen PD, meski sebetulnya semua orang tahu bahwa Ibas masih sangat minim kemampuan tentang berpolitik untuk mendampingi Anas Urbaningrum (AU) yang terpilih sebagai Ketua Umum PD. Tetapi toh, Ibas tetap pede bertindak sebagai Sekjen PD.

Namun tak lama kemudian, tiba-tiba terjadi kemelut di tubuh PD, yang dipicu oleh masalah kasus dugaan korupsi Nazaruddin (mantan Bendum PD), yang membuat “bintang iklan” anti-korupsi Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, dan baru-baru ini AU akhirnya juga ikut ditahan KPK.

Lain halnya dengan Gede Pasek yang meski sebetulnya adalah termasuk kader terbaik PD dan boleh dikata politisi yang cukup berkualitas, tetapi nyatanya ia juga harus terlibas alias dipecat dari parpol penguasa itu lantaran dinilai membelot dan lebih berpihak kepada AU.
Tetapi meski “jalan ceritanya” sudah sampai sedemikian “serunya” di panggung PD, pengamatan saya terhadap semua itu menunjukkan masih adanya kemungkinan “penampakan” lain yang ujung-ujungnya adalah untuk meraih simpatik pemilih dan demi “kepentingan politik 2014”.

Misalnya, boleh saja selanjutnya Ibas akan “dijadikan” tersangka oleh KPK, dan pada ketika itu boleh saja SBY buru-buru tampil berpidato “merestui dan mengikhlaskan” anaknya dijadikan tersangka demi mendukung penuh upaya pemberantasan korupsi. Tetapi wooww…, di situlah sebetulnya yang menjadi titik proyeksi positif sekaligus “senjata pamungkas” PD dalam mengembalikan citra dirinya agar dapat ditunjuk sebagai parpol yang benar-benar “serius” melakukan “bersih-bersih”. Lalu… pemilih pun dengan senang hati kembali memenangkan PD pada Pemilu 2014. Who fear…and Why not..??? This is the auto-electability..!

Akan muncul pertanyaan: “Kok bisa begitu..???”

Untuk khusus di dunia politik demi kembali merebut atau mempertahankan kekuasaan, semuanya bisa saja dibolak-balik dijadikan “begini dan begitu”, yang penting “tujuan” bisa tercapai. Termasuk “mengorbankan” untuk sementara waktu orang-orang (kerabat, sanak keluarga) yang dicintai demi sebuah kepentingan dan kekuasaan besar. Karena ketika kekuasaan sudah di tangan, maka bukan persoalan sulit jika yang dikorbankan itu bisa “dikembalikan” kepada posisi sedia kala, termasuk dengan “pengorbanan” uang yang selalu mesti dikorbankan untuk sementara waktu sebagai biaya kampanye (mungkin juga sebagai money-politic). Sekali lagi, semua itu tak akan jadi masalah ketika kekuasaan sudah berada di tangan. Bahkan lebih dari yang dikeluarkan (dikorbankan) akan bisa dengan mudah dipulangkan secara aman dan terkendali ketika kiranya telah berhasil tembus ke dalam istana.

Beberapa paragraf di atas adalah hanya bagian sedikit dari hasil analisa politik saya. Saya juga tak ingin membantah jika ada analisa lain yang mungkin agak berseberangan dengan hasil pemikiran saya. Silakan! Mungkin cuma berbeda dari sudut pandangnya saja, tetapi substansialnya adalah tetap sama. Yakni, tak ada satu parpol pun yang tidak berambisi menggenggam kekuasaan. Dan PD sedikit pun tentu tak ingin merelakan kekuasaan itu jatuh ke tangan parpol lainnya.

Bukankah saat ini PD adalah parpol yang sangat unik dan hebat, karena dipimpin dan dikuasai oleh bapak dan anak (SBY dan Ibas), yang kedua-duanya juga adalah termasuk “bintang iklan” anti-korupsi yang pernah giat ditayangkan di sejumlah stasiun televisi? Namun di saat KPK sedang gencarnya beraksi dan bereaksi, iklan itu kok malah hilang bagai ditelan bumi??? Yang muncul justru sebuah buku Biografi SBY.

Menurut saya, sangatlah tepat jika buku tentang biografi itu bisa dimunculkan nanti ketika SBY telah tidak lagi menjadi presiden. Karena, harusnya SBY mengejar dulu dead-line tugas-tugasnya sebagai presiden: “bisa tuntaskah atau justru disebut gagal total..???”

Jika SBY belum menyelesaian tugas-tugasnya hingga selesai masa jabatannya, maka selain terkesan dipaksakan karena menghadapi Pemilu, penerbitan buku biografi itu juga bisa “mengaburkan biografi negara”. Artinya, bisa saja buku biografi SBY itu berisikan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kepemimpinannya (sebagai presiden) dalam warna cerah, tetapi  kenyataannya ketika itu misalnya negara faktanya dalam kondisi buram, terutama dalam hal ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya.

Maaf, dengan melihat kondisi yang sangat sulit saat ini, seperti masalah ekonomi yang mencekik dan melilit rakyat, serta situasi politik yang berbelit-belit dari elit-elit parpol yang hanya mengedepankan kepentingan kelompoknya,  maka seberapa banyak pun kekuatan uang dan harta yang dimiliki  seorang presiden yang akan datang, itu tidak akan bisa mengatasi masalah bangsa yang sangat kompleks, apabila ia hanya dipilih karena kegantengan, kekaleman, atau karena punya banyak uang.

Hal lainnya yang mungkin bisa disebut “biografi negara” ini selama SBY berkuasa, adalah tak sedikit riwayat yang terjadi dalam bentuk musibah. Kita bisa menengok saat periode SBY-JK yang sejak awal-awal sudah dibuka dengan tsunami yang begitu amat dahsyat, disusul banjir. Juga ada “kecelakaan koalisi” (maaf ini cuma istilah saya), yakni kecelakaan di darat, laut dan di udara.

Musibah dan kecelakaan itu selalu saja mewarnai perjalanan kekuasaan SBY hingga kepada periode SBY-Budi. Memang pada periode ini, ada sedikit spasi waktu yang diberikan sebagai kesempatan pemerintahan SBY untuk “membenahi” akibat yang ditinggalkan oleh musibah dan kecelakaan tersebut.
Hingga pada memasuki tahun terakhir masa jabatan SBY-Budi 2014 ini, Tuhan lagi-lagi nampaknya akan selalu “memaksa” SBY agar benar-benar serius untuk lebih mewujudkan kepedulian kepada rakyatnya, bukan kepada keluarga atau kelompok saja. Yakni dengan melalui musibah dan bencana alam serta kecelakaan tersebut.

Dan lihatlah, Tuhan pun mengizinkan Gunung Sinabung meletus, lalu memilih Ibukota Jakarta untuk kembali banjir, juga menunjuk Manado tersapu luapan banjir bandang, serta di sejumlah daerah lainnya yang ikut dihantam banjir, pun tanah longsor. Dan sebelumnya ada tabrakan kereta api dengan truk di Bintaro.

Memang betul, semua itu adalah musibah, bencana dan kecelakaan yang tak bisa dihindari oleh pemimpin mana pun. Karena: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. 64:11).

Ayat tersebut menyiratkan perintah untuk senantiasa beriman kepada Allah agar Allah selalu memberi petunjuk kepada hati kita, yakni petunjuk untuk dapat “menghindari” murka Allah berupa musibah. “…Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, artinya adalah Allah sungguh sangat mengetahui hati kita, apakah selalu berdusta (bohong) atau tidak. Terutama pemimpin: apakah suka membohongi rakyatnya (tidak menepati janji-janji) atau tidak..??? Jika suka berdusta, maka: “Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” (QS. 45:1)

Oleh karena itu, agar bisa mendapatkan “biografi negara” yang cerah untuk anak-anak cucu kita kelak, maka dalam Pemilu (terutama Pilpres) rakyat harus benar-benar waspada dan jeli agar tidak memilih pemimpin yang “jago” mengumbar janji-janji, yang sesudahnya ternyata penuh kebohongan.

Selain itu, rakyat hendaknya tidak mudah terjebak serta terpengaruh memilih pasangan Capres hanya karena melihat parpol atau kekuatan uang yang dimilikinya saja. Sebab, sekali lagi, parpol sebesar apapun dan dengan kekuatan uang yang mungkin mampu membeli suara rakyat seperti pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, maka itu tidaklah mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara ini.

Yakinlah, “biografi” negara kita  sesungguhnya sangat bisa mencatat sejarah mulai dari sekarang demi kemajuan pesat jika pemimpin yang dipilih pada Pemilu 2014 adalah benar-benar ahli di bidang ekonomi. Bukan yang ahli politik, hukum, apalagi yang hanya ahli di bidang akting. Bukankah rakyat kita selama ini lebih banyak menjerit karena masalah ekonomi…??? Maka berjuanglah dari sekarang untuk melahirkan Pemimpin yang benar-benar AHLI DI BIDANG EKONOMI. Ingat, jangan serahkan masalah atau urusan besar kepada YANG BUKAN AHLINYA..!!!

Apakah kita mau menaiki mobil yang dikemudikan oleh orang yang tak ahli (atau sama sekali tidak tahu) menyetir di jalan yang berliku di kiri kanannya terdapat jurang terjal…???
SALAM PERUBAHAN 2014…!!!
------------
Sumber: Kompasiana

Jumat, 17 Januari 2014

Fakta: Meski Bukan “Bintang Iklan”, Tapi Banyak Rakyat Mendukung Rizal Ramli



[RR1online]:
SIAPA-SIAPA figur bakal capres yang sudah sangat gencar tampil di layar televisi saat ini…? Ya, namanya tak perlu disebut satu-satu! Sebab kita-kita sudah tahu siapa-siapa yang pagi, siang, malam sudah nongol beriklan, dan juga di stasiun-stasiun televisi mana saja..?!?!

Mereka bisa dimunculkan oleh pihak media (terutama media tv) untuk beriklan, karena adanya dua alasan yang memudahkan. Yakni pertama, karena yang bersangkutan adalah memang pemilik media tersebut sekaligus “pemilik” parpol; dan kedua adalah karena yang bersangkutan punya banyak uang dan mampu membayar media (stasiun tv) untuk beriklan, advertorial, men-chartel program acara tertentu yang dikemas secara khusus, dan lain sebagainya. Itulah potret industri media kita saat ini.

Dari dua alasan tersebut cukup jelas menunjukkan, bahwa media tv saat ini boleh dikata tidak fair dan tidak lagi independen. Karena mereka nampak sekali hanya memburu keuntungan diri sendiri. Yakni jelang Pemilu 2014, hanya cenderung melayani “majikan” masing-masing dan pemilik modal (yang membayar) saja.

Akibatnya, hakikat dan cita-cita pelaksanaan Pemilu dalam negara yang berdemokrasi sangat sulit tercapai. Sebab, rakyat lebih banyak “dipaksa” untuk hanya memilih “mereka-mereka” yang selalu tampil di tv. Dan “pemaksaan” seperti itu sebetulnya telah terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Padahal betapa masih banyak figur lain (alternatif) yang jauh lebih baik daripada mereka yang selalu nongol di tv, namun karena terhambat “tarif” penayangan iklan dan tak punya parpol, maka figur alternatif yang berkualitas itu pun sangat jarang atau bahkan kurang dikenal masyarakat luas. Kecuali jika figur alternatif itu sendiri yang berinisiatif untuk berkreativitas melakukan sosialisasi pendekatan langsung ke sejumlah daerah dengan dana “seadanya”.

Karena hanya berbekal dana seadanya, kegiatan-kegiatan sosialisasi diri dari figur alternatif itupun jangan harap bisa disaksikan di televisi, meski mungkin sempat diliput oleh kru tv. Apalagi jika “pemilik” stasiun tv tersebut kebetulan “membenci” figur alternatif itu, maka jangan harap pihak pengelola stasiun tv bisa menayangkan kegiatan-kegiatan sosial dari figur alternatif tersebut.

Contoh salah satunya adalah DR Rizal Ramli (RR1). Figur alternatif ini adalah sosok yang sebetulnya paling ideal untuk “dilahirkan” sebagai pemimpin bangsa guna kemajuan perekonomian secara pesat di negeri ini.

Sebab, selain sebagai ekonom senior yang pernah menjabat menko perekonomian serta menkeu, RR1 juga sangat konsisten dengan “nafas” pergerakan dan perjuangannya yang selalu pro-rakyat sejak dulu hingga saat ini. Sangat berkompeten memecahkan persoalan-persoalan ekonomi, dan sangat paham pola ekonomi seperti apa yang cocok diterapkan di negeri ini. Sehingga itu, bagi komite Konvensi Rakyat, RR1 kini juga diposisikan sebagai Capres 2014.

Namun karena tak punya stasiun tv, tak punya parpol, dan hanya punya dana “seadanya”, RR1 pun jarang “dimunculkan” oleh pihak media televisi dalam setiap kegiatan sosial yang dilakukannya.

Stasiun-stasiun tv lebih tertarik memunculkan sosok artis dan penyanyi setiap harinya, yang di dalamnya lebih menyuguhkan info tentang perkawinan, perceraian, dan juga memamerkan kemewahan para selebriti dengan durasi yang cukup lama. Sungguh sebuah ironi di dalam sebuah negara yang masih payah dengan pembangunan mental generasi mudanya.

Meski begitu, RR1 tak pernah protes terhadap media tv yang hanya lebih banyak menayangkan figur capres “majikan” dan “pemilik modal”, yang disajikan baik dalam bentuk iklan maupun berupa advertorial dan lainnya sebagainya.

Karena memang hanya punya dana “seadanya” (seperti Obama), RR1 pun hanya bisa melakukan silaturahmi dan sosialisasi diri secara sederhana, bersentuhan serta berkumpul dengan rakyat paling bawah secara langsung. Bahkan RR1 kerap terlihat di forum-forum diskusi karena diundang dan didaulat sebagai pemateri, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dari situlah, selain mengharapkan kesadaran dari seluruh rakyat Indonesia, RR1 juga banyak mengingatkan tentang pentingnya Pemilu sebagai penentuan masa depan rakyat di 5 tahun ke depan. Yakni dengan melakukan perubahan mendasar di seluruh bidang pembangunan, terutama memajukan bidang ekonomi yang memang sebagai landasan keahlian dari RR1.

Ide-ide, gagasan dan terobosan yang disuarakan RR1 melalui kunjungan silaturahminya, serta di seluruh acara forum diskusi yang dihadirinya sangat sulit tembus di siaran televisi-televisi. Sebab sekali lagi, rakyat selalu “dipaksa” setiap harinya untuk hanya menonton, mendengar dan mengikuti ajakan oleh para “bintang iklan” tersebut.

RR1 mungkin juga sangat tertarik untuk beriklan di tv, dan boleh jadi RR1 juga mampu menyediakan anggaran untuk beriklan di tv. Tetapi untuk sementara ini nampaknya itu tak ingin dilakukannya, sebab memang harus menunggu waktu yang benar-benar tepat untuk beriklan sekaligus berkampanye sesuai ketentuan dari KPU.

Makanya RR1 saat ini lebih memilih ingin berhadapan dan berkomunikasi langsung secara dua arah dengan rakyat di sejumlah titik. Sekaligus untuk mengukur dukungan secara langsung dari kalangan bawah.

Dan benar saja, meski tak beriklan, dan kendati kegiatan-kegiatannya tak disiarkan di tv, toh ternyata banyak rakyat dari golongan jelata hingga kalangan intelektual menyatakan sangat mendukung Rizal Ramli untuk maju dalam Pilpres 2014.

Misalnya ketika RR1 meresmikan Rumah Cerdas di daerah Gunungkidul-Yogyakarta beberapa waktu lalu, warga setempat sangat bersemangat untuk mendukung RR1 sebagai Capres yang diyakini mampu menerapkan ajaran Bung Karno dan Gus Dur.

Juga dengan sejumlah tokoh ternama di Jawa Barat (Jabar) mengaku sangat mendukung RR1 untuk dapat dimajukan dalam Pilpres 2014.

Seperti dilansir rmol: Bila semua jeli melihat akar persoalan bangsa Indonesia, maka sosok Rizal Ramli selaku Menko Perekonomian di era Presiden KH. Abdurrahman Wahid, sangat pantas dijadikan sebagai presiden.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Pasundan, Prof. Didi Turmudzi, di sela-sela diskusi yang bertema: “Ekonomi Indonesia Masa Depan”, di Kantor Pusat PB Pasundan (Rabu (15/1). Diskusi ini menghadirkan Rizal Ramli sebagai salah seorang narasumber.

“Masalah ekonomi misalnya, beliau (Rizal) cukup mumpuni menangani masalah ekonomi di Indonesia. Hal lain seperti politik, sudah tidak diragukan lagi karena RR1 pernah menjadi penasihat beberapa presiden,” ungkap Didi Turmudzi.

Masih di forum diskusi tersebut, tokoh politik senior di Jabar, Tjetje Padmadinata, mengakui bahwa Rizal Ramli bukanlah sosok baru yang ada di matanya.

“Bandung barcelonanya divisi yang berani lawan madrid. Alamiah kalau orang Bandung, akan aksi beraksi yang sudah kenal siapa figur capresnya. Bung Rizal ini, kulturnya Bogor, Bandung, jadi harus didukung,” demikian Tjetje Padmadinata.

Di tempat yang sama, seorang pengusaha di Jabar, Nanang Ma’some, juga menyatakan siap mendukung dan memilih Rizal Ramli sebagai Presiden RI 2014-2019. “Beliau (Rizal Ramli) yang bisa menyelesaikan persoalan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia saat ini,” ujar Nanang serius.

Rizal Ramli, kata Nanang, punya kemampuan menyelamatkan ekonomi nasional yang saat ini berada dalam kondisi lampu kuning akibat terjadinya quatro deficits sekaligus sebagaimana disampaikan Rizal Ramli. Rizal Ramli, lanjutnya, punya kemampuan melakukan terobosan-terobosan sekaligus solusi-solusi cerdas atas permasalahan ekonomi.

Nanang juga memandang Rizal Ramli sebagai orang jujur dan sosok berani menegakkan kedaulatan ekonomi nasional. “Rizal Ramli Gus Durian, pinter, bersih dan berani. Harus kita dukung,” tegas Nanang yang juga salah seorang pendiri salah satu pesantren besar di Jawa Barat.

Di tempat terpisah, Rektor Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Niki Lukviarman,juga secara khusus mengucapkan: “Selamat datang di kampus proklamator” atas kunjungan Rizal Ramli di Aula Balairung Caraka, Kampus I UBH Ulak Karang, Padang, Kamis (16/1/2014).

Kedatangan Rizal Ramli di Kampus tersebut adalah sebagai pembicara utama dalam seminar nasional yang mengusung tema: “Reposisi Ekonomi Indonesia Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean 2015”.

Dipilihnya Rizal Ramli sebagai keynote speaker dalam Seminal Nasional tersebut bukan tanpa alasan. Meenurut Niki, banyak nama yang diusulkan menjadi keynote speaker. Namun setelah dipertimbangkan matang, panitia dan pihak kampus kemudian memilih Rizal Ramli karena telah tersohor sebagai tokoh utama anti neoliberalisme di Indonesia. “Pak Rizal memiliki pemikiran ekonomi kerakyatan yang digagas oleh proklamator bangsa Bung Hatta,” ujar Niki.

Mengetahui dukungan yang makin hari kian bertambah dan mengalir kepadanya untuk maju pada Pilpres 2014, RR1 mengaku sangat terharu dan tak lupa mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak.

RR1 mengungkapkan, jika seluruhnya bersatu, kompak, maka dia menjanjikan bisa membuat Indonesia lebih dahsyat dan rakyatnya sejahtera. “Tidak pantas negara sebesar ini rakyat susah makan,” tutur RR1.

Menurutnya, strategi utama untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa ini yaitu perbaikan kebijakan, mengubah inovasi, dan kreativitas bangsa menjadi kekuatan besar, dan mengembangkan budaya Indonesia yang dikenal luar biasa. “Indonesia butuh leader, bukan dealer yang selalu cari untung,” tegas RR1.

Menyikapi semua uraian di atas, maka sangat tidak masuk akal jika ternyata nantinya parpol hanya lebih memilih figur yang jago beriklan untuk diusung sebagai capres, daripada figur alternatif yang benar-benar murni mendapat dukungan dari rakyat banyak secara luas tanpa melalui iklan.
SALAM PERUBAHAN..!!!
--------
Sumber: Kompasiana

Rabu, 15 Januari 2014

Tanpa “Uang” Rizal Ramli Didukung Jadi Capres

Kategori: Artikel*
[RR1online]:
DI mata banyak orang saat ini, Pilpres adalah kesempatan bagi semua partai politik bertarung habis-habisan untuk mencapai kepentingan dan kekuasaan besar, sehingga dana yang harus disediakan juga harus besar.

Meski pemahaman di atas sangat keliru dan amat menyesatkan, namun semua figur yang akan maju sebagai capres atau cawapres dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, jauh-jauh hari justru sudah kelihatan sibuk “menghambur-hamburkan uang” untuk mencari dukungan dari rakyat, baik dari dana pribadi maupun yang bersumber dari berbagai “cukong politik”.

Ada yang melakukan penghambur-hamburan uang tersebut melalui kegiatan pencitraan, seperti beriklan di berbagai media (cetak dan elektronik), pura-pura tidak mau maju nyapres padahal tim suksesnya sudah dikerahkan untuk “berteriak” di media online, membayar dan menyewa lembaga survei, mencetak alat peraga kampanye (baliho, stiker dan lain sebagainya). Ada juga yang menebar pesona dengan langsung memberi bantuan kepada panti-panti asuhan, korban bencana alam, di tempat-tempat ibadah.

Bahkan ada juga yang melakukan sosialisasi diri dengan cara menggelar lomba atau kuis berhadiah. Misalnya, lomba menggambar atau membuat avatar sosok bakal capres yang bersangkutan, dan juga melempar pertanyaan kepada pemirsa melalui sebuah kuis berhadiah di stasiun televisi.

Dan bahkan diduga kuat, sebentar lagi para figur bakal capres tersebut akan melakukan pendekatan langsung ke rakyat dengan menggunakan uang yang tak sedikit, yakni dengan menggelar kegiatan silaturahmi, tetapi ujung-ujungnya adalah bagi-bagi amplop (duit) kepada para hadirin.

Jika semua yang tersebut di atas dilakukan oleh para figur adalah semata untuk pengabdian, tentulah tak jadi soal. Tetapi jika itu dilakukan dan diikuti dengan “kalimat penegasan” agar dapat didukung atau dipilih nantinya sebagai capres, maka hal itu tentulah sebuah “pemaksaan” sekaligus pelecehan terhadap rakyat. Artinya, rakyat jangan lagi diajar dan dipaksa untuk menjadi “pelacur” yang dapat saja dibeli harga dirinya (kedaulatannya).

Silakan memberi, tetapi jangan pernah berharap bisa membeli suara rakyat lagi seperti yang sudah-sudah sebelumnya. Lakukanlah secara cerdas dan dengan cara-cara terdidik serta mendidik, dan bantulah rakyat tanpa harus berharap lebih! Sebab, jika rakyat kembali memilih pemimpin lantaran telah menerima “suap” (money-politic), maka negara ini pun dipastikan kembali dipimpin oleh sosok berotak kriminal.

Akibatnya seperti sekarang ini. Betul, kita mendapatkan pemimpin yang lahir di era reformasi, tetapi lihat saja bagaimana kenyataannya?!? Sungguh jauh dari cita-cita reformasi, malah boleh dikata telah gagal mengubah wajah Indonesia agar menjadi lebih bersih, dan justru membuat wajah Indonesia semakin hitam pekat,--sehitam dan sepekat hatinya???

Syukurlah jika memang rakyat kini mulai sadar dan cerdas, bahwa uang “suap” dari figur yang “minta” untuk dipilih itu sesungguhnya hanya mendatangkan “malapetaka” buat rakyat itu sendiri selama 5 tahun. Olehnya itu, rakyat saat ini benar-benar harus bisa membedakan mana figur yang hanya jago pencitraan, dan mana figur yang benar-benar layak didukung sebagai pemimpin ideal karena berdasar tingkat integritasnya, dan juga “penampakan” konsistensinya yang memang telah dibangun sejak dulu melalui perjuangan dan keberpihakan kepada rakyat, bukan nampak pada saat menjelang Pemilu.

Ini artinya rakyat sudah menyadari, bahwa uang mudah dicari karena itu gampang pula dihabiskan, tetapi mencari pemimpin ideal sangatlah sulit, kalau perlu rakyatlah yang harus berani “membeli” pemimpin ideal tersebut untuk kemajuan bangsa ini.

Dan kondisi kesadaran rakyat yang sangat menggembirakan ini sudah diperlihatkan oleh Warga Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul. Mereka dengan inisiatif sendiri telah mendirikan dan mengadakan Rumah Cerdas. Kemudian dengan sukarela mereka menamakan “Perpustakaan” tersebut dengan nama; “Rumah Cerdas, DR. Rizal Ramli”.

Tentu saja hal ini adalah sebuah gerakan “Pembuka Perubahan” yang langsung dilakukan oleh rakyat. Mereka tahu, bahwa Rizal Ramli adalah satu-satunya Capres dari non-parpol (Konvensi Rakyat) yang sangat layak didukung agar dapat lahir sebagai pemimpin bangsa karena diyakini mampu mambawa perubahan besar di negeri ini. Sebab, Rizal Ramli sejauh ini memang dinilai telah terbukti mampu merubah (memimpin) dirinya sendiri. Yakni meski hanya sebagai anak yatim-piatu sejak usia 6 tahun, tetapi Rizal Ramli ternyata mampu menjadi tokoh ternama seperti saat ini.

Sehingganya, tanpa harus diberi “uang”, Warga Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul ini pun menyatakan siap mendukung dan memilih Rizal Ramli dalam Pilpres 2014. Dan tanpa harus beriklan di TV untuk sengaja pencitraan, atau tanpa harus sengaja menyewa lembaga survei, Rizal Ramli pun bisa mendapat dukungan dari rakyat.

Dalam sambutannya saat meresmikan Rumah Cerdas di Gunungkidul tersebut, Rizal Ramli mengajak untuk tidak berputus asa dengan kondisi sulit, dan berharap agar rakyat bisa benar-benar menjadi pemilih cerdas, “Kita ubah Indonesia supaya lebih hebat, lebih cerdas, dan (agar) rakyat (bisa) hidup lebih sejahtera,” ujar Rizal Ramli yang kini bertekad untuk menerapkan ajaran Bung Karno dan Gus Dur jika Tuhan merestuinya menjadi pemimpin melalui suara rakyat dalam Pilpres 2014 mendatang.

Semoga. Amin..!!!!
------
*Sumber: Kompasiana

Rizal Ramli Siap Maju di Pilpres 2014: Ingin Ubah Indonesia Lebih Hebat

Rizal Ramli di tengah-tengah masyarakat Gunungkidul di Rumah Cerdas. foto:ist.

Yogyakarta, [RR1online]:
ANGGOTA Panel Ekonomi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang juga selaku ekonom senior, DR.Rizal Ramli, menyatakan betul-betul siap untuk juga ikut maju dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2014.

Keseriusan sosok Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan era Presiden Gus Dur ini pun telah diawali dengan dirinya yang telah lolos sebagai Capres dalam Konvensi Rakyat.

Rizal Ramli (RR1) mengaku siap maju mencalonkan diri dalam pilpres 2014 ini, karena sejauh ini rakyat masih sangat banyak yang kelihatan tak terurus. Sehingga itu, RR1 bertekad untuk mengurus serta memperbaiki nasib rakyat melalui pembenahan ekonomi yang benar-benar kuat dan tangguh.

Rizal Ramli menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya saat meresmikan Rumah Cerdas di Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta, Minggu (12/1/2014).

Kesiapan Rizal Ramli untuk juga dapat maju pada Pilpres 2014 tersebut ternyata mendapat semangat dan dukungan dari masyarakat Gunungkidul yang memadati acara peresmian Rumah Cerdas itu.

“Kita ubah Indonesia supaya lebih hebat, lebih cerdas, dan rakyat hidup lebih sejahtera. Saya tak mau rakyat Indonesia seperti anak yatim piatu, tidak ada yang mengurus. Saya ingin rakyat ada yang mengurus, ada yang memikirkan dan ada yang memberi arahan,” ujar RR1menanggapi dukungan warga Gunungkidul, seperti dikutip jurnas.com.

Saat ini, kata RR1, mayoritas masyarakat di pedesaan belum mendapat akses pendidikan dan teknologi. Namun meski begitu, RR1 mengaku bangga dengan inisiatif Warga Gunungkidul yang mendirikan Rumah Cerdas.

Rumah Cerdas ini adalah berfungsi sebagai perpustakaan yang berisi berbagai jenis buku. Dan dapat pula dijadikan sebagai tempat bertukar pikiran. Bangunan (Rumah Cerdas) ini juga dilengkapi dengan pusat informasi seputar rekam jejak Rizal Ramli. Salah satunya adalah seputar perjuangan RR1 yang meski telah menjadi anak yatim-piatu saat masih berusia 6 tahun, tetapi sejauh ini tak pernah berputus asa demi mempersembahkan yang terbaik untuk negeri ini.

“Jangan pernah putus asa, gantungkan cita-cita setinggi-tingginya, walaupun secara ekonomi tidak mendukung. Jangan menyerah!” pesan RR1 yang kini berstatus sebagai Capres Konvensi Rakyat yang memperjuangkan ajaran Bung Karno dan Gus Dur itu.

Dilansir jurnas.com. Sutarsih, perwakilan warga Gunungkidul menilai Rizal Ramli sebagai sosok yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ia juga menilai Ramli sebagai tokoh yang amat peduli dengan rakyat miskin.

“Rakyat membutuhkan pemimpin yang bersih dan tidak gampang disuap. Korupsi telah membuat rakyat tidak sejahtera. Kami tahu Pak Rizal Ramli orang yang bersih,” ujar Sutarsih yang juga selaku guru SLTP di Gunungkidul ini.(map/ams)