Selasa, 25 Februari 2014

Ingin Ikuti Selera Rakyat, "Parpol" Memerlukan Tokoh Seperti Rizal Ramli

[RR1online]:
SAAT ini ada dua jenis partai politik (Parpol). Pertama adalah parpol "incumbent" (yang masih sedang menduduki kekuasaan), dan kedua adalah parpol "incoming" (yang baru masuk).

Suasana jelang Pemilu seperti saat ini, seluruh partai politik itu pun nampak sangat sibuk “menjual diri” ke sana ke mari mendekati dan membujuk rakyat.

Semuanya secara serentak dan berlomba-lomba menyerukan “kebaikan” dengan penuh semangat berapi-api, juga mengklaim diri sebagai pihak yang lebih bisa melakukan “Perubahan”, yang diikuti dengan janji-janji manis. Sayangnya, seruan atau klaim seperti itu sudah pernah terjadi pada Pemilu yang sudah-sudah. Dan lihatlah, lalu rasakan sendiri seperti apa hasilnya sekarang...??!!??

Ya... secara keseluruhan, kondisi negeri ini masih sangat jauh dari yang dijanjikan, alias penuh omong kosong. Bahkan negeri ini makin dililit dengan masalah-masalah yang tidak ringan, terutama masalah ekonomi dan keuangan, hukum, serta masalah kedaulatan negara malah semakin parah.

Masalah ekonomi di antaranya adalah nilai Rupiah yang masih melemah; harga kebutuhan hidup sandang, pangan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya masih sangat mahal (tidak seimbang dengan penghasilan rakyat yang masih tergolong rendah); kegiatan impor makin subur; defisit keuangan negara yang terus minus; utang negara yang makin membesar.

Masalah ekonomi di atas kemudian memicu timbulnya masalah hukum dan kriminal, di antaranya, tidak sedikit pejabat negara yang justru berlomba-lomba melakukan korupsi, yang diduga adalah untuk mengamankan diri masing-masing agar dapat terhindar dari “kesulitan” hidup ekonomi. Juga perampokan, pencurian, perdagangan manusia, KDRT kini bahkan makin marak terjadi karena umumnya dipengaruhi oleh himpitan ekonomi.

Sementara itu, wajah hukum kita juga kini dinilai makin menjauh dari rasa ketidakadilan. Misalnya, BNN (Badan Narkotika Nasional) yang telah begitu banyak menghabiskan uang negara dalam upaya memberantas dan melawan penyalahgunaan narkoba karena dapat merusak generasi bangsa, nyatanya kasus Corby “si Ratu Mariyuana” itu bisa berakhir dengan kisah penuh “kebahagiaan”, alias bebas dengan happy-ending. Sementara di sisi lain, sejumlah tersangka teroris yang belum sempat diproses secara hukum (masih dalam operasi pengepungan) justru begitu mudahnya dihilangkan nyawanya.

Mungkin masalah atau hal-hal seperti itulah yang menjadi pemicu timbulnya teroris dan penembakan terhadap sejumlah polisi serta pengrusakan pos polisi belakangan ini. Artinya, kondisi buruk yang terjadi saat ini salah satunya boleh jadi adalah juga akibat dari “ulah” pemerintah sendiri yang dinilai kerap melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan rakyat.

Dari masalah ekonomi dan masalah hukum yang selama ini begitu sangat berantakan penanganannya, membuat kewibawaan kedaulatan negara dan bangsa pun menjadi gampang “ditampar” oleh negara lain. Sebut saja misalnya, Malaysia dan Singapura. Kedua negara kecil itu sungguh telah berani merongrong dan melecehkan kedaulatan negara kita. Dan itu artinya seakan-akan Malaysia dan Singapura telah mengetahui banyak titik-titik kelemahan negara kita, sehingga mereka pun memandang Indonesia sebagai negara kerdil yang tak patut lagi dihormati.

Dari semua masalah yang ada seperti yang diurai di atas, maka seperti inikah wujud dari seruan “kebaikan” dan “perubahan” yang pernah diserukan pada Pemilu sebelumnya oleh para parpol yang kini berhasil menduduki posisi di pemerintahan..???

Apapun jawabannya dari pertanyaan di atas: “Ya atau Tidak”, adalah tentu tetap dengan sebuah kesimpulan yang sama, yakni bahwa pemerintah sesungguhnya telah dinilai gagal mengangkat harkat serta martabat kedaulatan ekonomi, hukum, juga derajat sosial bangsa dan negara kita.

Sehingga itu, betapa pun besarnya seruan “kebaikan” dan “perubahan” yang diserukan oleh seluruh parpol (incumbent maupun incoming) jelang Pemilu kali ini, adalah sesungguhnya sudah sangat terlalu sulit untuk bisa kembali dipercaya oleh rakyat. Sebab sejauh ini rakyat sudah terlanjur kecewa dan sakit hati terhadap “ulah” dari parpol incumbent yang hanya cenderung memburu keuntungan untuk kelompoknya masing-masing.

Lain halnya dengan parpol incoming, meski sebagai pendatang baru, tetapi rakyat tentu saja tidak harus serta-merta mempercayainya sebagai parpol yang mampu melakukan perubahan. Sebab, ada beberapa hal yang membuat rakyat untuk tidak langsung percaya kepada parpol incoming, di antaranya adalah:
1. Parpol incoming itu diketahui hanya merupakan “keturunan” (pecahan) dari parpol incumbent;
2. Parpol incoming itu diketahui dipimpin dan dikendalikan oleh figur yang sedang memegang sejumlah bisnis, sehingga jika parpol ini berkuasa, maka dikuatirkan yang lebih dulu diutamakan adalah bisnisnya;
3. Parpol incoming itu juga diketahui dipimpin dan digerakkan oleh figur yang hanya memiliki semangat berapi-api dan modal dana yang cukup besar, tetapi belum memiliki pengalaman berkiprah di dalam sistem kenegaraan, misalnya di pemerintahan. Atau sebaliknya, punya pengalaman tetapi dinilai minim prestasi. Dan lain sebagainya.

Sebetulnya ada cara yang boleh dikata tidak keliru untuk segera ditempuh oleh sejumlah parpol incumbent (tidak termasuk parpol yang sudah rusak karena korup) maupun incoming agar bisa merebut kepercayaan rakyat, yakni adalah dengan “melibatkan” figur independen secara langsung untuk diposisikan sebagai Capres maupun Cawapres.

Figur independen yang dimaksud tentu saja adalah seseorang yang memiliki pengalaman sebagai sosok pegiat perubahan, yang konsisten dan telah teruji sejak dulu aktif berjuang pro-rakyat, dan sejauh ini dinilai mampu melewati berbagai rintangan bukan karena ditunjang dan didukung oleh parpol tertentu melainkan berkat kecerdasan dan kemandiriannya.

Saat ini sejumlah figur independen memang masih bisa ditemui. Namun secara spesifik, sosok yang paling mendekati kriteria sebagai figur independen seperti yang digambarkan di atas adalah hanya DR. Rizal Ramli (RR1).

Rekam jejak Rizal Ramli sejauh ini tak bisa dipungkiri adalah merupakan “sekumpulan kekuatan” yang dapat dijadikan sebuah “modal” utama dalam memudahkan negara ini melakukan langkah perbaikan dan perubahan. Sebab sesungguhnya, rekam jejak adalah juga merupakan gambaran untuk dapat mengetahui sejauh mana ukuran “kualitas” seseorang.

Olehnya itu, jika negara ini benar-benar ingin mewujudkan perubahan (rakyat makmur dan sejahtera dalam ekonomi yang mapan), maka figur independen seperti Rizal Ramli sebagai ekonom senior adalah sosok yang sekali-kali tidak bisa diabaikan, apalagi untuk disepelekan.

Namun apabila figur independen seperti Rizal Ramli nantinya toh akan dikesampingkan oleh parpol, dan rakyat hanya mengelus-elus serta memuja-muja parpol yang mampu mencurahkan uang sebagai kekuatan untuk meraih kekuasaan, maka dipastikan rakyat akan kembali kehilangan kesempatan mendapatkan perubahan sebagaimana yang didambakan selama ini.

Tetapi nampaknya, sejauh ini sejumlah parpol sudah ada yang mulai melirik Rizal Ramli untuk dapat diposisikan sebagai Capres maupun Cawapres pada Pilpres 2014 mendatang. Dan tentu saja hal ini bukanlah langkah keliru, sebab saat ini rakyat pun memang sangat mengharapkan agar ada parpol yang juga bisa mengusung sosok independen untuk dapat dilahirkan sebagai pemimpin di negeri ini. Dan seperti inilah sesungguh selera rakyat..!!!

SALAM PERUBAHAN 2014...!!!
---------
Sumber: KOMPASIANA

Rabu, 19 Februari 2014

Mantan KSAD Sebut Indonesia Hanya Bisa Maju jika Dipimpin oleh Rizal Ramli

[RR1online]:
JIKA Indonesia dipimpin Rizal Ramli yang punya integritas, kapasitas, dan kapabelitas, tentu negara ini bisa maju, kuat, dan makmur.

Hal tersebut ditegaskan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal (Purn) TNI. Tyasno Sudarto, saat memberikan pandangannya dalam acara peresmian Rumah Perubahan “Rizal Ramli Strategic Centre (RRSC)”, di Gedung Duta Merlin, Jakarta, Kamis (13 Februari 2014).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, di antaranya adalah Guru Besar Psikologi Politik UI, Hamdi Muluk; pakar hukum TPPU, Yenti Garnasih; pengamat Migas, Marwan Batubara.

Penegasan dari seorang jenderal berbintang empat itu tentu saja tidak asal terlontar tanpa diikuti proses pemikiran serta pertimbangan yang sehat dan cerdas. Disebut sehat dan cerdas karena sebagai seorang mantan KSAD, Tyasno tentunya sudah sangat mengetahui kondisi di negeri ini, dan juga sudah pasti ia telah sangat memahami betapa negeri ini amat membutuhkan pemimpin seperti sosok DR. Rizal Ramli (RR1).

Mengapa harus Rizal Ramli yang disebut Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto sebagai sosok yang sangat patut dan layak didukung untuk menjadi pemimpin (Presiden) di Indonesia?

Mari kita menjawabnya! Bahwa selama ini, harapan besar yang sangat didambakan oleh seluruh Rakyat Indonesia adalah betapa amat menginginkan hidup dalam negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang tangguh.

Sebab, saat ini orang bisa dengan tega melakukan perbuatan kriminal, misalnya: mencuri, merampok, KDRT, dan lain sebagainya, umumnya adalah lantaran terhimpit masalah ekonomi. Juga, tidak sedikit warga lebih memilih ke luar negeri sebagai TKI/TKW, sebab di negeri sendiri negara (pemerintah) dianggap sudah tak mampu lagi memberi “kehidupan” buat mereka.

Intinya adalah masalah ekonomi negara ini harus bisa dibenahi dan diperbaiki oleh pemimpin yang punya integritas, kapasitas, dan kapabel (sudah pasti atau terutama harus di bidang ekonomi). Sebab tidak ada anak yang tega membunuh ibu/bapaknya atau sebaliknya, dan tidak akan ada ibu tega membuang bayinya hanya karena persoalan politik, ataupun hukum. Pembunuhan bapak/ibu, anak, atau bayi yang dibuang oleh ibunya dan lain sebagainya itu nyaris 100% adalah karena masalah ekonomi.

Jika kriminalitas bisa tumbuh subur karena dipicu oleh persoalan ekonomi, maka pemerintah sesungguhnya sudah patut disebut gagal total dari tanggungjawabnya terhadap rakyatnya. Jika ekonomi rapuh, maka politik tidak akan bisa berjalan secara sehat, mutu pendidikan tidak akan bisa ditingkatkan dengan baik, dan persoalan hukum akan sangat sulit berada di posisi yang sebenarnya.

Olehnya itu, sepatutnya dan sudah saatnya (pada 2014 ini) pemimpin Indonesia adalah sosok yang memahami (ahli) dalam hal memperbaiki ekonomi bangsa dan negara. Artinya, kita sesungguhnya tidak membutuhkan pemimpin yang ahli berpolitik, ahli hukum, ahli strategi perang, dan lain sebagainya. Sekali lagi, rakyat sebetulnya hanya sangat membutuhan sosok pemimpin ahli di bidang ekonomi yang telah berpengalaman.

Pemikiran seperti inilah kiranya yang mendasari penegasan Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto sekaligus mengajak semua pihak untuk dapat turut mendukung dan memilih Ekonom Senior (Rizal Ramli) itu sebagai Presiden-RI 2014-2019. “Apa pun yang terjadi, kita harus memastikan orang-orang seperti Pak Rizal Ramli bisa tampil memimpin Indonesia,” pungkas Tyasno.

---------------

Sumber : KOMPASIANA

Sabtu, 15 Februari 2014

Rizal Ramli: Rekrutmen PNS Masih Banyak KKN

Jelang Debat-Publik Konvensi Rakyat Capres 2014 di Balikpapan.

[RR1online]:
SEJAK dulu, penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu saja dinodai dengan cara-cara yang tidak sehat. Tidak sedikit orang yang tidak lulus justru adalah orang-orang yang punya kualitas yang baik. Sementara orang-orang yang berhasil lulus kebanyakan adalah karena memiliki “koneksi” atau keluarga dan kerabat di dalam pemerintahan yang kebetulan punya kedudukan strategis, juga adalah yang mampu menyediakan uang sebagai “mahar” untuk lulus sebagai PNS.

Kalau pun ada yang lulus murni, tentu jumlahnya sangatlah sedikit. Dari seratus peserta ujian CPNS, kemungkinan yang lulus murni (tanpa koneksi dan uang) hanyalah sekitar 1 atau 2 orang.

Jika kondisi yang tidak sehat seperti itu terus dipertahankan, maka negara kita akan dipenuhi oleh orang-orang yang berhasil menjadi aparatur negara hanya karena memiliki koneksi atau uang. Sehingganya, mereka hanya bekerja menurut koneksi dan uang saja.

Artinya, mereka yang lulus karena koneksi (jasa keluarga) tentu hanya akan tunduk pada keinginan atau “selera” koneksinya masing-masing. Sementara yang lulus karena uang, tentunya hanya lebih cenderung mencari-cari cara untuk bisa mendapat uang yang lebih banyak secara instan. Sebab, selain mungkin karena uang tersebut adalah hasil pinjaman, juga boleh jadi uang tersebut adalah hasil penjualan tanah atau rumah  yang harus segera dikembalikan dan ditukar secara cepat.

Akibatnya, negara hanya lebih banyak dijalankan oleh mereka yang di pikirannya adalah hanya untuk memenuhi kepentingan dan kepuasan sendiri-sendiri, bukan untuk melayani kepuasan rakyat. Lihat saja, pungli dan korupsi saat ini betapa sangat leluasa dilakukan secara berjamaah di seluruh daerah.

Kita tak bisa berharap banyak kepada pemerintah saat ini agar “budaya” yang tidak sehat tersebut bisa segera dihilangkan. Sebab, pemerintah saat ini (baik di pusat maupun di daerah) masing-masing hanya nampak lebih sibuk mengejar kepentingan mereka masing-masing.

Lihatlah, betapa banyak kepala daerah saat ini yang membangun “dinasti” mereka, dan hanya memberi kesempatan yang sangat luas kepada para keluarga mereka berada di pemerintahan, dan juga memberi proyek “basah” kepada keluarga dan kerabat mereka saja.

Bahkan juga dalam organisasi strategis (baik di pemerintahan maupun  parpol) telah diisi dan diduduki oleh kalangan keluarga mereka. Itulah wajah KKN, yang justru makin subur tumbuh di era reformasi (yang katanya adalah era anti-KKN), tetapi kenyataan sangat PRO-KKN. Sungguh amat ironis dan memilukan..!!??!!

Sehingga tak keliru jika saat ini sudah begitu banyak kalangan dari berbagai lapisan yang menghendaki agar dapat mendukung sosok Capres yang benar-benar ideal. Yakni sosok yang  betul-betul punya rekam jejak yang anti-KKN dan bukan kader parpol tertentu (korup), yaitu seperti DR. Rizal Ramli (RR1).

Selain sebagai tokoh nasional yang memang sejak dulu sudah giat berjuang dan membela hak-hak rakyat, Rizal Ramli sejauh ini juga memang dikenal sebagai sosok yang tak pernah berpihak kepada satu parpol mana pun. Sehingga itu, tak salah jika Rizal Ramli dinilai adalah satu-satunya sosok yang sangat bisa dipercaya untuk bisa membersihkan negara ini dari “budaya” KKN tersebut.

Dan momen yang paling tepat bagi rakyat untuk menghilangkan budaya kotor tersebut adalah melalui Pilpres 2014, yakni dengan mendukung dan memilih sosok seperti Rizal Ramli untuk segera dilahirkan sebagai Presiden-RI. Kenapa???

Sebab tak bisa dipungkiri, bahwa jika dibandingkan dengan figur lainnya, maka Rizal Ramli memang adalah satu-satunya sosok yang bisa menjadi Kabulog, menjadi Menteri Koordinator Perekonomian, dan bisa menjadi Menteri Keuangan, adalah bukan dari hasil KKN (bukan karena keluarga, uang, juga bukan karena melalui parpol), tetapi adalah betul-betul karena profesionalisme dan juga benar- benar karena keahlian yang dimilikinya.

DR. Rizal Ramli saat tampil memarparkan visi-misi. Tampak di belakang Yusril Ihza Mahendra, Sofjan Saury Siregar dan Isran Noor. Masing-masing adalah Kandidat Capres dalam Konvensi Rakyat, di Balikpapan, Minggu (10/2/2014).


“Sekarang, rekrutmen PNS banyak Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN),” lontar Rizal Ramli dalam memaparkan visi-misinya selaku Kandidat Capres melalui debat-publik yang digelar Komite Konvensi Rakyat, di Gedung Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC), di Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (9 Februari 2014).

Dalam kesempatan tersebut, Rizal Ramli (RR1) amat bertekad mewujudkan diterapkannya Reformasi Birokrasi. “Tanpa reformasi birokrasi, akan menimbulkan korupsi dan kualitas pelayanan rendah. Birokrasi hanya akan mempersulit rakyat dan pengusaha. Target pembangunan ekonomi dan sosial akan sulit tercapai tanpa reformasi birokrasi,” ujar RR1.

Tentu saja, kata RR1, ada hal-hal yang sifatnya teknis jika ingin mengubah wajah birokrasi, di antaranya sistem rekrutmen PNS harus diubah dengan menghilangkan kebiasaan buruk seperti KKN. “Sulit dihindari, top eselon banyak yang tidak profesional dan (tidak) qualified. Maka, kita harus rekrut yang profesional (misalnya) dari universitas, agar tujuan kita tercapai,” tegasnya.

Jika negara ini mau maju, dan jika bangsa (rakyat) ini bisa terlayani dengan baik, maka menurut RR1 performance dan prestasi pejabat publik harus selalu dievaluasi. Selain itu, RR1 juga menyebut harus ada sitem pensiun dini.

Anggota Dewan Penasehat Ekonomi di badan dunia (PBB) ini mengisahkan, bahwa saat masih di dalam pemerintahan, dirinya pernah mereformasi birokrasi di Bulog. Dia memindahkan pejabat Bulog Jawa Timur ke Kalimantan Tengah dan sebaliknya. Pasalnya, kata dia, Jawa Timur dikenal “basah” bagi pejabat Bulog. Sedangkan Kalimantan Tengah dikenal “kering”. Kebijakan itu ternyata berhasil menghemat biaya hampir setengah triliun karena pengusaha tak lagi menyogok pejabat Bulog di daerah basah.

“Saya yakin itu (reformasi birokrasi) bisa dilakukan. Kita harus lakukan, agar pertumbuhan (kemajuan) masyarakat bisa lebih cepat tercapai,” tutur RR1.

Niat baik dan keinginan mulia RR1 ini sangat bisa terwujud, yakni sepanjang rakyat tidak lagi salah memilih pemimpin, tentu saja dengan cara bergotong-royong dan bersatu melahirkan pemimpin yang benar-benar dari Rakyat untuk Rakyat, bukan dari partai dan hanya untuk partai pula.

SALAM PERUBAHAN 2014…!!!
--------

Sumber: KOMPASIANA

Kamis, 13 Februari 2014

Rizal Ramli Bisa Menjadi “Energi Positif” Buat Parpol yang Mengusungnya

[RR1online]:
KITA pasti semua tahu, bahwa saat ini pandangan rakyat sudah sangat cenderung negatif terhadap Partai Politik (Parpol), terutama parpol yang berada di satu “dapur” (koalisi) dengan pemerintah (penguasa) saat ini.

Pandangan negatif itu muncul tentunya adalah karena sebagai akibat dari ulah dan perilaku para elit parpol itu sendiri, seakan negara ini adalah menjadi hak milik mereka sendiri.

Yakni dengan sangat nampak hanya lebih memburu kepentingaan dan “keuntungan” diri mereka masing-masing, hingga membuat kondisi negara dan bangsa kita pun bisa seburuk seperti saat ini. Lihat saja ekonomi terpuruk, nilai Rupiah terkapar, utang negara yang menggunung, defisit anggaran negara yang makin minus, kewibawaan negara yang kian kerdil di mata negara luar, korupsi merajalela, dan lain sebagainya.

Kondisi seperti itulah yang membuat rakyat memandang negatif terhadap parpol penguasa beserta koalisinya saat ini.

Perilaku para elit parpol bisa “sejelek” seperti sekarang, itu tentunya karena disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, boleh karena para ketua umumnya tidak memiliki ketegasan dan wawasan kebangsaan, dan mungkin juga karena ketua umumnya memang tidak punya kemampuan “mengelola” parpol sebagaimana yang diharapkan rakyat.

Selain itu, boleh jadi juga karena moral ketua umumnya yang pada dasarnya memang sudah rusak (munafik dan mungkin gemar membohongi rakyat). Sehingganya, para kadernya pun sangat sulit untuk “dilarang” dalam berbuat “kerusakan”.

Lalu, ketika telah diketahui bahwa parpolnya saja tak bisa dikelola dan sangat sulit dibawa ke jalan yang “benar”,  maka apakah kita (rakyat) kemudian harus percaya dan memberikan dukungan kepada ketua umum parpol tersebut  untuk menjadi seorang presiden…??? Sungguh sebuah kebodohan yang sangat luaaarrr biasa jika hal ini akan terjadi dan dilakukan oleh rakyat…!!!

Memang ada juga parpol yang tidak lagi mengusung ketua umumnya untuk dicalonkan sebagai presiden, ketua umum parpol tersebut hanya merekomendasikan sejumlah orang untuk maju menjadi capres. Tetapi orang-orang yang direkomendasi itu tentulah adalah orang-orang “pilihan” menurut selera ketua umum parpol bersangkutan, yakni adalah orang yang diyakini bisa menjamin “hidup” ketua umum parpol tersebut jika kelak orang yang direkomendasikan itu berhasil terpilih sebagai presiden. Termasuk menjamin keselamatan ketua umum beserta petinggi parpol tersebut untuk tidak disentuh hukum meski mungkin diduga pernah melakukan sejumlah “kejahatan”.

Beberapa paragraf tersebut di atas adalah secuil kondisi riil, bahwa betapa sejauh ini sebetulnya parpol penguasa beserta koalisinya masih belum bisa membangun parpolnya sendiri secara bersih, dan belum mampu mengelola parpolnya menjadi parpol sebagaimana yang diharapkan oleh rakyat.

Lalu parpol mana saja yang bisa dipercaya saat ini? Atau apa saja yang bisa dilakukan oleh para parpol yang telah terlanjur dipandang negatif oleh rakyat…??

Sebenarnya masih ada sejumlah parpol koalisi (di Senayan) yang berpeluang menjadi parpol yang bersih dan dapat kembali diminati oleh rakyat, sekaligus menghilangkan pandangan negatif rakyat terhadap parpol mereka. Yakni, salah satunya dengan cara menghilangkan “kultur” yang sering mengultuskan ketua umumnya secara sangat berlebih-lebihan, namun sesungguhnya penuh kepura-puraan.

Mengultuskan ketua umum yang berhasil membuat parpolnya menjadi parpol yang bersih, dan selalu mampu secara tegas memperjuangkan kepentingan rakyat, maka tentulah itu tidak jadi masalah. Bahkan ketua umum seperti itu wajib untuk bisa dikultuskan dan diupayakan sekuat tenaga agar dapat menjadi seorang pemimpin negara.

Tetapi sebaliknya, jika seorang ketua umum hanya bisa menjadikan partainya sebagai parpol “kotor”, pun hanya bisa menjadikan partainya sebagai parpol “pemburu kekuasaan atau penjilat penguasa korup”, maka tentulah sangat tak patut untuk dikultuskan apalagi dimajukan sebagai calon presiden. Bahkan ketua umum seperti ini tidak wajib untuk diikuti seleranya. Tetapi jika toh tetap dipaksakan, maka negara diyakini akan ikut menjadi kotor dan rusak.

Sebab, ketua umum belum tentu adalah kader terbaik parpol. Boleh jadi kemunculannya sebagai ketua umum hanya karena kebetulan punya posisi strategis, atau juga karena hanya dipengaruhi oleh banyaknya uang dan kekayaan materi yang dimilikinya. Buktinya tidak sedikit orang yang bisa tampil sebagai ketua umum parpol karena berhasil menduduki kursi presiden, wakil presiden, dan paling tidak sebagai menteri.

Artinya, nanti ketika seseorang menjadi presiden, wakil presiden, atau jadi menteri, barulah ada parpol yang tertarik memilihnya atau bahkan orang tersebut yang berambisi untuk menjadi ketua umum. Tahu kan siapa-siapa orang tersebut..?

Sejauh ini hanya ada satu orang yang tulen yang memang sebelumnya sudah sebagai ketua umum hingga kemudian berhasil menjadi wakil presiden, lalu sukses menduduki kursi presiden, yakni ibu Megawati Soekarnoputri. Namun meski begitu, partai yang dipimpin oleh pendekar wanita ini masih kerap dinodai oleh ulah kotor sejumlah oknum kadernya.

Kembali mengenai sejumlah parpol koalisi, yang sejauh ini terlanjur dipandang negatif oleh sebagian besar rakyat akibat dari kondisi ekonomi negeri yang jauh dari yang diharapkan. Sekali lagi, sebetulnya parpol tersebut masih berpeluang untuk menjadi parpol yang diminati oleh rakyat, sekaligus sangat memungkinkan menjadi pemenang dalam Pemilu. Yakni dengan mengusung sosok dari luar partai, bukan ketua umum mereka. Alasannya tentu seperti yang telah saya kemukakan di atas, yaitu para ketua umum sejauh ini belum berhasil membawa parpol masing-masing ke “jalan atau ke tempat” sebagaimana yang diharapkan oleh rakyat, apalagi untuk membawa negara ini.

Para parpol hendaknya harus jujur menyadari, bahwa sejauh ini rakyat berpandangan negatif karna sangat tidak puas dan amat kecewa dengan kinerja parpol koalisi. Sehingga jika para parpol  ini tetap ngotot memajukan ketua umumnya sebagai capres, atau memaksakan diri mengikuti selera ketua umum masing-masing, maka rakyat akan meninggalkan parpol tersebut.

Dalam kondisi yang sangat sempit karena telah mendekati gelaran Pemilu, maka sangat mustahil bagi para parpol koalisi untuk bisa melakukan bersih-bersih dan menghindari pandangan negatif rakyat.

Tetapi apabila parpol benar-benar serius ingin keluar dari pandangan negatif tersebut, maka ada cara yang tak keliru untuk segera ditempuh oleh para parpol ini. Yaitu, menjadi parpol pengusung sosok independen dari luar partai (bukan kader) untuk dijadikan capres.

Langkah dan cara ini memang sulit dan tidak lazim dilakukan, tetapi inilah jalan menuju perubahan  yang mendasar. Dengan berani mengusung sosok independen, maka parpol dengan sendirinya akan menjadi “pusat perhatian dan pusat perbincangan” di tengah-tengah masyarakat.

Terlebih jika sosok yang diusung sebagai capres tersebut adalah sosok yang benar-benar memiliki kemampuan berupa integritas serta rekam jejak kemandirian dan pengabdian yang tinggi, maka dipastikan sosok itu akan membawa energi positif bagi parpol yang mengusungnya.

Memang ada sejumlah sosok independen yang layak diusung oleh parpol untuk dimajukan sebagai capres. Salah satunya yang sangat menonjol adalah DR. Rizal Ramli.

Rizal Ramli memang bukanlah sosok sempurna, sama dengan sosok lainnya yang juga disebut-sebut akan maju dalam pilpres 2014. Artinya, semua sosok yang akan maju bertarung dalam pilpres tentulah tidak ada yang sempurna. Pastilah semuanya ada kelemahan, juga ada kekurang masing-masing.

Namun ketika mengetahui kondisi dan persoalan bangsa saat ini, di mana masih sangat dililit oleh masalah-masalah ekonomi yang amat berat, maka tentunya rakyat sangat mendambakan seorang ekonom senior seperti Rizal Ramli agar dapat dilahirkan sebagai pemimpin negeri guna mengatasi masalah-masalah ekonomi negara kita saat ini.

Terlebih ketika memang diketahui, bahwa persoalan ekonomi bangsa ke depan sudah pasti akan jauh lebih sulit lagi dalam hal mengatasinya, maka sangatlah tidak masuk akal kiranya apabila para parpol hanya mendukung dan mengusung sosok yang tidak memahami atau tidak menguasai jujus-jurus ampuh di bidang ekonomi.

Singkat kata, ketika Rizal Ramli diusung sebagai capres lalu disosialisasikan secara menyeluruh, serentak dan keroyokan di seluruh wilayah tanah air. Yakni dengan menyebut bahwa Rizal Ramli adalah satu-satunya capres dari kalangan independen yang sengaja direkrut sebagai capres karena keahlinya di bidang ekonomi yang telah berdedikasi tinggi dan telah berpengalaman di tingkat nasional maupun internasional, sehingga diyakini mampu mengatasi masalah-masalah ekonomi, maka di saat itu rakyat pun akan serentak memandang positif parpol mana saja yang mengusung sosok seperti Rizal Ramli tersebut (asal jangan parpol biang korup).

Artikel ini tidak akan berarti apa-apa bagi parpol yang arogan dan egois dalam nafsunya untuk meraih kekuasaan demi kepuasan kelompoknya saja. Tetapi saya yakin, artikel ini bisa menjadikan kualitas kecerdasan dan daya kesadaran rakyat jadi meninggi, yang pada akhirnya akan menjadi mimpi buruk yang panjang bagi para parpol yang hanya pandai berucap manis tetapi bukti dan hasilnya sangat pahit. Mengajak untuk tidak korupsi, tetapi di belakangan kenyataannya malah “merampok” uang rakyat. Ibarat penjual obat jerawat yang sangat amat pandai menawarkan jualannya, tetapi wajahnya sendiri malah ketahuan dipenuhi dengan jerawat.

SALAM PERUBAHAN 2014…!!!
-------------
Sumber: KOMPASIANA

Jumat, 31 Januari 2014

Farhat Abbas "Sindir" SBY?

[RR1online]:
BETAPA amat banyak “kicauan” Farhat Abbas yang bertebaran di Twitter. Dan meski banyak yang menarik, namun selama ini tidak satupun tertarik untuk saya tanggapi. Tetapi tiba-tiba, saya merasa suka, dan bahkan sangat menyukai sebuah “kicauan” yang sempat di-tweet oleh Sang Pengacara yang saat ini sedang mengalami gangguan dalam kehidupan rumah tangganya.

“Nyanyian bagusmu jangan dibuat rusak oleh cerita busukmu,” demikian kicauan Farhat Abbas di akun Twitternya itu, beberapa waktu lalu.

Sesaat setelah membaca tweet tersebut, di benak saya bertanya-tanya: siapa gerangan yang dimaksud oleh Farhat Abbas dalam statusnya itu? Atau kepada siapa ia tujukan tweet tersebut?

Saya kemudian “membedah” tweet itu dan mencoba menerka-nerka dengan memetik dua kata dari tweet tersebut, yakni kata: “Nyanyian” dan “Cerita”. Lalu saya menghubungkan dengan “suasana bathin” yang sedang dialami oleh Farhat.

Setelah sejenak menelusuri, maka ada dua “suasana bathin” yang saya temui dari Farhat. Yakni, pertama, ia sedang bersemangat “memperjuangkan” dirinya untuk juga bisa tampil sebagai sosok yang bisa menandingi popularitas Jokowi, JK, Prabowo, Rizal Ramli, Megawati, Surya Paloh, Rhoma Irama dan lain sebagainya untuk jadi Capres 2014. Sebab, tak jarang tweetnya memakai hash-tag “AkuIndonesia”.

Dan yang kedua, mungkin suasana bathin Farhat Abbas saat ini sedang “galau” karena menghadapi gugatan cerai dari istrinya, Nia Daniati.

Suasana bathin yang pertama kemudian saya kaitkan dengan kondisi riil Indonesia secara umum yang kini sedang siap-siap menggelar Pemilu. Apalagi tahun ini memang telah “disepakati” sebagai tahun politik, sekaligus tahun penentuan.

Dan dari beberapa suasana tersebut di atas, nampaknya saya sudah bisa menebak siapa yang dimaksud atau kepada siapa tweet tersebut diarahkan. Dan sungguh mencengangkan, jika Jokowi bisa disebut “Raja Blusukan” (Raja adalah= senang), JK “Raja Donor”, Prabowo “Raja Berkuda”, Rizal Ramli “Raja Ekonomi”, Megawati “Ratu Mimbar”, Surya Paloh “Raja Media”, dan Rhoma Irama “Raja Dangdut”, maka Farhat Abbas adalah “Raja Tweet”. Mengapa…???

Karena nampaknya Farhat Abbas mampu membuat satu tweet (kicauan seperti di atas) tetapi bisa “menyindir” (mengenai) dua sosok sekaligus, serta tetap pula bisa mewakili dan memenuhi dua “suasana bathinnya” tersebut.

Kedua orang itu kemungkinan besar adalah Presiden SBY, dan juga Nia Daniati (istri yang menggugatnya cerai).

Dua kata (Nyanyian dan Cerita) dari Farhat Abbas itu sangat mendekati kedua orang tersebut, yakni SBY dan Nia Daniati. Karena kedua-duanya adalah seorang “penyanyi”. SBY bisa kita sebut juga sebagai “penyanyi”, karena memang sejumlah album lagu sudah berhasil diorbitkannya, dan SBY pula sudah berhasil menuangkan “Ceritanya” ke dalam sejumlah buku, buku terakhir bahkan menceritakan tentang dirinya.

Lalu bagaimana menyinkronkan kalimat: “Nyanyian Bagusmu” dan “Cerita Busukmu” dari tweet Farhat Abbas itu terhadap kedua orang tersebut?

Mudah saja. Yuk kita intip artikel Saudara Syafril Sjofyan di Kompasiana yang berjudul: “SBY Memang “Pintar””. Dalam artikel tersebut dituliskan: “…Dia (SBY) berusaha membersihkan dirinya melalui buku menurut versi pribadi (subjektif), yang isinya lebih banyak pembelaan diri.”

Mantan aktivis mahasiswa 77/78 ini nampaknya telah “membedah” sejumlah buku SBY, sehingga ia harus menanggapi sekaligus meluruskan “sejarah” yang mungkin dianggapnya sebuah “kebusukan” ataupun “kebohongan” yang telah dituangkan oleh SBY ke dalam buku-bukunya.

Pernyataan SBY ini jelas kebohongan. Rakyat tahu dan media jadi saksi Rizal Ramli dilengserkan atau dipaksa turun sebagai Komisaris BUMN setelah memimpin demo besar-besaran anti kenaikan BBM di tahun 2008 bersama Rieke Diah Pitaloka, dan aktivis buruh Said Iqbal. Rizal Ramli dilengserkan dari Komisaris BUMN melalui rapat luar biasa pemegang saham. Bukan keluar seperti diceritakan SBY dalam bukunya,” demikian yang ditulis mantan aktivis mahasiswa 77/78 itu.

Di bagian lain dalam artikel tersebut, Syafril Sjofyan yang juga selaku Broadcaster itu menyebutkan: “…Ucapan dan kata-katanya (SBY) sarat kebohongan soal kemiskinan, mau ditembak teroris, dikudeta padahal hanya kegiatan kritisi rakyat tanpa ada militer bersenjata.

Dari referensi tersebut, maka sosok yang “disindir” Fathat Abbas dalam tweetnya: “Nyanyian bagus…..cerita busuk” itu selain mungkin adalah Niadaniati, sepertinya dan boleh jadi juga adalah Presiden SBY.

Untuk Bung Farhat Abbas, maaf kalau “tebakan” saya keliru…!!! Sampai itu, judul artikel ini saya beri tanda tanya (?)
SALAM PERUBAHAN 2014...!!!!
--------------
Sumber: KOMPASIANA

Kamis, 30 Januari 2014

Ini Alasan Sejumlah Aktivis Mahasiswa dan Beberapa LSM Dukung RR1 Layak Capres 2014

DR.Rizal Ramli selaku balon Capres 2014 saat tampil dalam Debat-Publik di Medan yang digelar Komite Konvensi  Rakyat

[RR1online] :
KOMITE Konvensi Rakyat saat ini sedang menggodok 7 (tujuh) sosok yang telah ditetapkan sebagai Capres 2014. Dalam penetapannya, ketujuh sosok tersebut sebelumnya sudah melalui proses seleksi administrasi yang diikuti berbagai pertimbangan, salah satunya adalah meneliti rekam jejak seluruh pendaftar yang telah memasukkan berkas, beberapa waktu lalu. Selain itu, Komite juga tentunya mencari tahu dan menelusuri apakah calon peserta benar-benar mendapatkan aspirasi dari bawah (rakyat).

Ketujuh Capres 2014 versi Konvensi Rakyat tersebut masing-masing secara berurut adalah: DR. Rizal Ramli (Mantan Menko Perekonomian), Isran Noor (Bupati Kutai Timur-juga Ketua DPD Partai Demokrat di daerahnya); Sofyan Saury Siregar (Rektor Islamic University of Europe Rotterdam-Belanda); Anni Iwasaki (aktivis perempuan Indonesia di Jepang); Ricky Sutanto (pengusaha sukses papan atas); Tony Ardi (mantan aktivis); dan Yusril Ihza Mahendra (mantan Menkum HAM).

Dan sejauh ini, ketujuh peserta Konvensi Rakyat tersebut sedang menjalani tahap “penempaan” melalui kegiatan Debat Publik yang digelar oleh Komite di beberapa kota besar di tanah air. Yakni: Surabaya (5 Januari 2014), Medan (19 Januari 2014), Balikpapan (2 Februari 2014), Makassar (16 Februari 2014), Bandung (2 Maret 2014), dan terakhir di Jakarta (9 Maret 2014).

Khusus Debat Publik yang telah dilangsungkan di Medan, seluruh kandidat Capres 2014 Konvensi Rakyat nampak sangat antusias memaparkan pandangan, visi-misi, maupun gagasannya di hadapan panelis serta para pendukung masing-masing.

Ada hal menarik dari Debat Publik yang dilaksanakan di Gedung Medan International Convention Center (MICC), Medan, pada Ahad (19 Januari 2014) tersebut. Yakni, di antara sekian banyak pendukung yang memadati gedung yang terletak di Jalan Gagak Hitam/Ring Road-Medan itu, terdapat pendukung DR. Rizal Ramli (RR1) nampak sangat kompak dengan memakai kaos seragam putih bergambar wajah Rizal Ramli, dan bertuliskan: DR. Rizal Ramli Presiden Rakyat.

Di sana ada mahasiswa bernama Adin bersama rekannya sesama mahasiswa yang juga aktif selaku aktivis dalam BEM di kampus masing-masing. Mereka tentu saja tidak asal menetapkan dukungannya kepada DR. Rizal Ramli selaku Capres 2014 versi Konvensi Rakyat itu. "Dr. @RamliRizal yang bisa membawa Indonesia lebih baik dan lebih baik lagi di tahun 2014-2019," tulis Adin dalam tweetnya, sekaligus mengunggah foto bareng dengan DR. Rizal Ramli saat Konvensi Rakyat di Medan pada akun Twetter miliknya.

Artinya, Adin bersama sejumlah mahasiswa tersebut sudah pasti punya alasan yang sama dengan para aktivis lainnya (buruh, antikorupsi dan lain sebagainya), tentang mengapa harus (hanya) mendukung Rizal Ramli untuk dapat dipilih sebagai Pemimpin pada Pilpres 2014 mendatang.

Alasan para mahasiswa tersebut, menurut saya (selaku aktivis antikorupsi), Rizal Ramli memang sangat patut didukung secara terang-terangan dan sepenuh hati di antaranya adalah karena :

1. Rizal Ramli adalah satu-satunya tokoh nasional yang paling giat dan konsisten memperjuangkan tercapainya perubahan pro-rakyat (dari dulu) tanpa membawa atribut partai politik tertentu. Artinya, Rizal Ramli selama ini berjuang sendiri secara independen secara murni dan benar-benar untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan parpol tertentu.

2. Rizal Ramli juga bisa muncul sebagai Capres seperti saat ini, adalah karena benar-benar merupakan aspirasi dari rakyat (bukan karena hasil rekayasa partai),

3. Rizal Ramli adalah sosok yang sangat hebat, yang mampu memiliki nama besar selaku tokoh nasional adalah benar-benar karena diawali dari bawah atau dimulai (dari start) di “nol kilometer”. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan sebagian besar tokoh-tokoh parpol lainnya yang bisa mendapatkan nama besar di antaranya karena “pengaruh” orangtua (dan mertua) serta uang atau harta yang dimilikinya sejak dulu. Bahkan ada beberapa tokoh yang masih dalam kandungan ibunya memang sudah berstatus sebagai orang kaya-raya. Dan ini sangat berbeda dengan Rizal Ramli yang sudah menjadi anak yatim-piatu sejak berusia 6 tahun, dan cuma berasal dari keluarga yang cukup sederhana.

4. Di antara semua figur yang juga disebut-sebut akan maju sebagai capres 2014, hanya Rizal Ramli satu-satunya sosok yang benar-benar ahli dalam bidang ekonomi. Karena selain memang sebagai Ekonom Senior (Doktor Ekonomi) yang pernah menjabat sebagai Kabulog, Rizal Ramli juga pernah menjabat dua posisi menteri secara berturut-turut, yakni Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. Bukankah selama ini rakyat (dan negara) kita memang sedang (masih) mengalami kesulitan ekonomi yang sangat berat...???

5. Rizal Ramli telah terbukti adalah sosok pemberani. Yakni saat sebagai aktivis mahasiswa, ia pernah dengan gigih tampil di barisan terdepan melawan dan menentang rezim pemerintahan Orde Baru yang dinilainya korup, sampai-sampai ia kemudian terpaksa dijebloskan ke dalam penjara. Sehingga itu, kiranya tak perlu lagi ditanyai : mengapa hingga sekarang ia (RR1) tetap berani melawan rezim yang sedang berkuasa saat ini..?!!

6. Rizal Ramli benar-benar adalah sosok inspiratif dan tauladan untuk kemajuan anak bangsa (terutama generasi muda). Artinya, di saat perkembangan era globalisasi yang sangat pesat dengan muatan-muatan yang cenderung menyeret “generasi muda” ke arah kehidupan negatif, terutama dalam bentuk “budaya dan teknologi” yang sulit dihindari seperti saat ini, maka tentu Rizal Ramli dapat menjadi sosok inspiratif dan tauladan bagi generasi muda.Sebab, meski memiliki kehidupan yang sangat susah dengan dipenuhi “penderitaan yang teramat pedih”, toh Rizal Ramli nyatanya mampu (berhasil) melalui kehidupannya tersebut secara penuh kemandirian.

7. Rizal Ramli memang bukanlah seorang dewa atau malaikat. Tetapi secara intuisi, Rizal Ramli adalah termasuk sosok yang nampaknya diberkahi “langsung” oleh Tuhan berupa kekuatan hati dan pikiran yang amat besar. Dan berkah inilah yang menjadi “kompas” penuntun langkah Rizal Ramli selama ini meski tak didampingi lagi kedua orangtuanya sejak dulu karena telah berpulang ke Sang Maha Pencipta. Kalau bukan karena diberkahi dan dilindungi langsung oleh Tuhan, apalagi namanya..??? Jadi hendaknya kita bisa membedakan mana orang yang bisa sukses karena pengaruh orangtua (mertua), kekayaan melimpah; dan mana orang yang mampu sukses karena memang atas kemandirian dan “campur-tangan langsung” dari Tuhan.

Sehingga itu, dari semua alasan tersebut di atas, maka tidaklah keliru jika Mahasiswa, para aktivis sosial seperti Buruh, Pegiat Antikorupsi, juga dengan Abang Bentor, Pengemudi Taksi beserta angkutan umum, pedagang Kaki Lima, Petani, Nelayan, Kaum Intelek serta Cendekiawan, dan lain seluruhnya, kini merasa patut bersatu padu mendukung sosok Rizal Ramli untuk dapat “dilahirkan” sebagai Pemimpin (minimal sebagai Wakil Presiden) pada Pilpres 2014, sebab RR1 diyakini benar-benar mampu mengangkat derajat ekonomi bangsa setinggi-tingginya.

SALAM PERUBAHAN 2014...!!!
-------

Rabu, 29 Januari 2014

Ini Semua Tentang Ideologi SBY (Bukan Soal Kampanye Hitam)

[RR1online]
Pada 2004, SBY menentukan arah ideologi bangsa yang ia nahkodai menuju ke neoliberalisme. Hal ini terwujud dengan diangkatnya para teknokrat penganut pasar bebas menjadi para menteri perekonomian. Pada saat yang sama SBY tidak jadi memasukkan DR Rizal Ramli ke dalam tim ekonomi tersebut oleh karena terdapat penolakan dari para kubu pasar bebas, seperti: Marie Elka Pangestu dan Sri Mulyani (dengan Boediono berada di belakangnya sebagai mentor mereka). Di sini Rizal Ramli telah dikhianati (atau didustai) oleh sahabatnya sesama pejuang Reformasi (SBY merupakan salah satu tokoh militer yang berkonspirasi menjatuhkan Suharto pada 1998). Mereka berdua, SBY dan Rizal Ramli, adalah “teman lama”, sudah sejak 1978.

Pada saat 1978 itu Rizal Ramli merupakan pimpinan dari mahasiswa penentang Orde Baru (bersama Ir. Abdulrachim, Indro Tjahyono, Heri Achmadi, Irzadi Mirwan, dll) sedangkan SBY merupakan kapten dari pasukan bersenjata yang ikut menduduki kampus ITB selama 3 bulan.

Jika Rizal Ramli dan kawan-kawan seperjuangannya mengkonsep sebuah sistem Perubahan sebagai alternatif dari Orde Baru, secara kontradiktif kapten SBY merupakan salah satu perwira yang melakukan represi terhadap para mahasiswa dan dosen di kampus ITB 1978 (baru 20 tahun kemudian SBY sadar perjuangan Rizal Ramli sejak dulu benar adanya).

Sudah menjadi takdir, bahwa SBY sejak muda tidak pernah berideologi (karena menjadi sekrup sistem pendindasan pemerintahan otoriter Orde Baru), sedangkan Rizal Ramli sudah sejak sangat muda memiliki ideologi yang menginginkan perubahan sistem ekonomi. Maka wajar jika kemudian Rizal Ramli tidak ikut dalam kabinet pemerintahan neoliberal yang sudah berjalan lebih dari sembilan tahun bersama SBY ini.

Dan dikarenakan munculnya Skandal Bank Century pada 2008, hubungan SBY dan Rizal Ramli menjadi semakin pelik. Rizal Ramli sudah terkenal semenjak mahasiswa tidak pernah ragu menentang ketidak adilan (lewat Gerakan Anti Kebodohan 1977-1978) dan korupsi (keluarga Suharto). Maka Skandal Bank Century juga menjadi sasaran kritisisme doktor ekonomi lulusan Universitas Boston, Amerika Serikat, ini. Skandal Century sejatinya memang olah pikir Boediono, tentu dengan sepengetahuan penuh dari SBY (karena Sri Mulyani –yang mengaku dibohongi Boediono- berkali-kali melapor ke SBY, yang sedang berada di Amerika Serikat, soal rencana bailout Bank sakit ini). Jika tidak ingin dikatakan sebagai gratifikasi, ia bisa dikatakan upeti politik dari kaum monetaris kepada SBY.

Krisis keuangan 2008 dikatakan (dengan berbagai teori dari kalangan ini, Gubernur Bank Indonesia, Boediono) mengancam perekonomian Indonesia, padahal kenyataannya tidak pernah terjadi. Hal ini dijadikan alasan bagi para kriminalis kerah putih semacam Boediono, yang sudah bermasalah sejak BLBI 1997-1998, Bank Mandiri 2002, dan Bank Century 2008-2009, untuk memberi upeti bagi perpanjangan masa jabatan SBY.

Bank Indover yang katanya bangkrut, dicoba oleh Boediono untuk dibail-out namun digagalkan oleh ketua KPK non-aktif, Antasari Azhar (yang kemudian dikriminilisasi dengan rekayasa tingkat tinggi). Setelah Antasari masuk bui, maka Boediono pun lebih leluasa memilih bank bocor untuk dijadikan “ATM” untuk pengadaan upeti politik. Targetnya kali ini adalah Bank Century, yang memang sejak penggabungannya bermasalah.

Uang dalam jumlah besar pun keluar dari Bank Indonesia masuk ke Bank Century, yang anehnya terjadi dalam selang waktu yang berjarak cukup lama (sejak 2008 hingga 2009). Kalaupun benar, aliran uang haram ini seharusnya tercatat pada log book di Bank Indonesia- tentu dapat diketahui jika KPK merminat memperdalam kasus bocornya Bank yang kini berganti nama menjadi Bank Mutiara ini.

Dan karena runtut waktunya bersamaan dengan pelaksanaan Pemilu dan Pilpres 2009, logikanya aksi kejahatan korporasi ini berhubungan dengan pendanaan tim sukses pemenangan SBY pada 2009. Itulah mengapa SBY begitu reaksioner begitu Rizal Ramli coba menjelaskan suatu analisis yang sangat masuk akal menyangkut hubungan antara kejadian ekonomi-politik dalam Skandal (pembobolan) Bank Century- hingga somasi pun melayang darinya belum lama ini.

Karena jasanya membobol Bank Century, Boediono pun, dengan restu (.alm) Widjoyo Nitisastro –bosnya geng neoliberal- dijadikan SBY sebagai wakilnya pada pilpres 2009, menggeser seluruh 9 orang cawapres yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Partai Koalisi. Setelah SBY menang pada 2009, yang kabarnya dilakukan dengan manipulasi peralatan IT KPU (di mana Antasari Azhar sebenarnya juga sudah mengetahuinya).

Akhirnya Boediono lah yang bukan merupakan politisi, melainkan seorang mantan banker Bank of America di era 1960-an akhir, dapat melaju menjadi wakil presiden Republik Indonesia pada 2009. Boediono pun menjadi wakil presiden pertama yang merupakan generasi penerus dari “mafia Berkeley” (merupakan generasi teknokrat, yang menurut John Perkins dalam buku The Economic Hitman, yang memimpin dengan senjata).

Dengan memilih seorang wakil Presiden seorang neolib –yang sangat memalukan, yang bersangkutan sering berlagak nasionalis secara simbolik (dengan mengunjungi Ende tempat Bung Karno dibuang tahun 1930-an, dsb)- maka SBY sudah semakin kehilangan kendali atas perekonomian bangsa yang sedang berlangsung di hadapannya. Apalagi kemudian diangkat seorang menteri koordinator perekonomian yang kurang mumpuni, yaitu besan SBY sendiri.

Menjadi sangat lumrah jika kemudian bangsa Indonesia melaju semakin jauh meninggalkan perekonomian konstitusi seperti yang dikehendaki Rizal Ramli, namun malah tenggelam dalam neoliberalisme: pintu masuk dari penjajahan gaya baru (neokolonialisme).

Di bawah SBY (Boediono), sebagian angka makro ekonomi cukup baik, meskipun masih didera oleh quarto deficit,  namun ketimpangan yang dilukiskan dengan indeks gini semakin tajam. Apa yang dilakukan oleh SBY dan Boediono selama memimpin hanya berupaya melanggengkan “penjajahan” tersebut. Karena kondisi “terjajah” dapat diwakilkan dengan kemiskinan. Sederhananya: jika dalam Negara sekaya Indonesia ternyata masih terdapat 100-an juta rakyat yang berpenghasilan di bawah Rp 12.000/bulan, maka jelas rakyatnya sejatinya masih terjajah.

Rizal Ramli adalah ekonom kelas internasional (menjadi penasehat panel ahli di UNDP, badan di Perserikatan Bangsa Bangsa, bersama tiga orang peraih Nobel Ekonomi) yang menganut paham ekonomi konstitusi, berseberangan dengan paham ekonomi neoliberalisme jenderal SBY dan Boediono.

Jika coba diingat lagi: pada saat berada dalam kabinet Gus Dur 1999-2001, Rizal Ramli cukup memberikan terapi kejut pada lembaga internasional simbol neoliberal seperti IMF, dengan berhasil memaksakan lembaga donor mengikuti poin-poin LoI yang diusulkan oleh Indonesia (yang pada masa SBY hanya bisa melunasi utangnya). Bahkan, jika tidak Gus Dur dilengserkan pada 2001 oleh SBY dan kelompoknya, maka Freeport sudah dapat direnegosiasi untuk pertama kalinya di bawah kepemimpinan menteri Rizal Ramli (yang pada masa SBY-Boediono sampai detik ini Freeport tentu tidak dapat tersentuh).

Jelas, yang menjadi masalah di sini bukanlah soal kampanye hitam seperti kekhawatiran SBY belum lama ini (28/01/2014), tetapi adalah paham atau ideologi ekonomi yang SBY anut. SBY sudah terlampau jauh meninggalkan perekonomian konstitusi dalam 9 tahun belakangan, mengingkari amanat suci the founding fathers. Oleh karena itu yang dibutuhkan oleh Indonesia ke depan (2014-2019) bukanlah lagi seorang jenderal yang gampang disetir oleh kepentingan asing seperti SBY, tetapi adalah seorang ekonom konstitusi seperti Rizal Ramli.
------------
Sumber: KOMPASIANA