Senin, 23 Juni 2014

Inggris dan Spanyol di Worldcup, Cermin Nasib Bangsa Indonesia

Adhie Massardi
MESKIPUN bola itu bundar dan segala kemungkinan bisa terjadi di lapangan hijau, tapi tetap saja sulit dipercaya bahwa di Piala Dunia 2014 Brasil, Spanyol bisa begitu konyol, dan Inggris benar-benar bernasib tragis.

Berada di Grup B bersama Belanda, Chile dan Australia, dalam dua kali tanding Spanyol hanya berhasil menorehkan satu gol, ke gawang Belanda. Sedang gawangnya sendiri yang dijaga Iker Casillas kebanjiran 7 gol, 5 oleh Belanda dan Chile dua gol.

Timnas yang semula dijuluki “tim matador” itu langsung berubah menjadi pasukan banteng yang tersungkur, dan segera kembali ke negerinya dengan luka yang dalam. Sebab dalam sisa pertandingan lawan Australia Senin (23/6) besok, kalau toh menang dengan berapa pun gol yang berhasil diproduksi, tak akan mengubah nasib Spanyol.

Sabtu, 21 Juni 2014

Rizal Ramli Sarankan Visi-Misi Kedua Capres Sebaiknya Diperbaiki

RR1news: WAJAH masa depan ekonomi Indonesia masih dalam sketsa yang belum jelas, karena dua pasang capres yang ada saat ini sama-sama kurang menguasai masalah pembenahan ekonomi kerakyatan.

Hal ini terlihat pada debat capres kedua yang sudah digelar beberapa waktu lalu, sangat jelas keduanya sosok capres hanya mengandalkan analisa yang terkesan “instruksional”, dan juga diwarnai pemikiran yang “emosional”.

Kamis, 19 Juni 2014

Tokoh Lain “Berburu” Jabatan, Rizal Ramli Tetap Konsisten?

RR1news: ADA banyak tokoh-tokoh yang semula berapi-api menonjolkan dan membangga-banggakan diri sebagai figur yang paling layak memimpin negeri ini. Namun karena tidak terakomodir sebagai capres atau cawapres, para tokoh itu pun kini ramai-ramai menyeberang dan terang-terangan mendukung pasangan capres resmi masing-masing yang ada saat ini.

Rabu, 18 Juni 2014

Jokowi Insinyur Kehutanan dan Prabowo Gerilyawan yang Sama-sama Terjebak di “Hutan

RR1news: WAJAH politik kita saat ini sebetulnya bagai hutan belantara. Para “penghuninya” hidup laksana tiada aturan, tak ada ideologi, tak ada arah, dan tak ada lagi tata-krama. Yang ada hanyalah nafsu untuk meraih kepuasan sendiri-sendiri. Suara rakyat hanyalah sebuah “komoditas” untuk mendulang kekayaan dalam sistem demokrasi di negara kita.

Para politisi korup benar-benar sudah berwajah “tebal”. Disindir, diperingatkan dan dituding secara langsung pun sudah tak mempan lagi, karena para penghuninya tersebut memang seakan sudah kehilangan rasa malu. Orang Jawa bilang “ndablek”, orang Makassar bilang “tena-siri’na”... (silakan dilanjutkan menurut bahasa di daerah masing-masing).

Minggu, 01 Juni 2014

Memilih Jokowi Berarti Membuat JK dan Megawati Menjadi Presiden

RR1news: KALAU Aa Gym dalam tweet-nya mengatakan: “Yang pilih Jokowi artinya memilih Ahok jadi gubernur, yang pilih Prabowo artinya memilih Jokowi jadi gubernur Jakarta.

Tweet kiai kondang tersebut tersirat makna, bahwa memilih Prabowo itu sama dengan membuat Jokowi bisa menjadi pemimpin amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Menurut saya,  statement versi Aa Gym via akun Twitter-nya @aagym tersebut tentu saja adalah murni menggunakan kacamata agama.

Sabtu, 31 Mei 2014

Ibu-ibu Mengaku Tertipu Diajak Hadiri Pengajian, Tak Tahunya Acara Jokowi-JK

Sumber: Senkiel via forum tribun
►RR1news: Ribuan warga dari berbagai daerah berdatangan untuk melakukan ikrar untuk mendukung Jokowi-JK yang digelar dalam Kongres relawan Demi Indonesia, di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Sabtu (31/5/2014).

Sayangnya, banyak warga yang mengaku merasa tertipu atas penyelenggaraan acara tersebut, terutama bagi sebagian besar ibu-ibu kelompok pengajian yang mengaku tidak mengetahui akan diikutsertakan dalam acara dukung-mendukung tersebut.

“Lowongan Kerja”! Ada Jalur Khusus Menjadi Menteri Kabinet?

(RR1, online)
KARAKTER pemerintahan di negara ini nampaknya memang sudah amat memprihatinkan. Untuk menjadi seorang menteri pun ternyata tidaklah susah-susah amat. Sebab, ada jalur khusus yang bisa membuat seseorang bisa mengisi “lowongan kerja” agar dapat menjadi menteri.

Lowongan kerja untuk menjadi menteri pada jalur khusus ini pun tidaklah memerlukan keahlian di bidang yang akan ditanganinya. Bahkan bagi yang berminat, tidak diharuskan berasal dari kalangan partai pendukung.